Ada cerita, bahwa langit dan bumi itu suka ribut. Pertengkaran itu jadi makanan mereka tiap hari. Hal kecil, sepele, dan masalah sederhana, membuat mereka langsung ribut. Misalnya langit menurunkan banyak hujan, bumi pun protes. Sebaliknya bumi mengirim terlalu banyak uapnya ke atas, langit yang protes. Mereka selalu mendapatkan alasan untuk bertengkar.
Namun pada saat dan kebutuhan tertentu, mereka berdua sepakat untuk bekerja sama. Bila manusia ternyata merusak lingkungan alamnya, bumi sepakat dengan langit supaya ada hukuman yang pantas bagi manusia ialah tanah dan lingkungannya menjadi kering. Langit menahan air hujannya. Sebaliknya bila manusia sangat merawat bumi dan alam lingkungannya, bumi sepakat dengan langit supaya memberikan kesuburan dan kehangatan bagi kehidupan manusia dan segenap makhluk di bumi.
Suatu kesepakatan lahir dari kenyataan sisi atau pihak yang berbeda. Fungsi utamanya ialah supaya kesepakatan itu dipegang dan dijadikan dasar untuk suatu kerja sama, kolaborasi, dan hidup bersama. Dari sudut pandang iman kita, perbedaan posisi dan tujuan Tuhan dengan penguasa kejahatan amatlah tajam. Kita memahami, bahwa antara Tuhan dan Setan tidak bisa bekerja sama. Tidak mungkin kita menemukan satu kesepakatan antara kedua belah pihak.
Yesus Kristus dan perutusan-Nya, terciptalah satu kesepakatan antara kehendak Tuhan dan keinginan Setan melalui para musuh Yesus, yaitu para ahli Taurat, kaum Farisi dan para Imam besar. Allah telah menetapkan, bahwa Yesus Kristus akan mati untuk mengumpulkan dan mempersatukan anak-anak Allah yang tercerai-berai. Pandangan yang sama juga datang dari Imam besar Kayafas yang bernubuat, bahwa Yesus dari Nazaret akan mati untuk mengumpulkan dan mempersatukan anak-anak Israel yang tercerai-berai.
Kesepakatan ini harus terjadi, sehingga terjadilah Yudas Iskariot yang dirasuki Setan dapat menjalankan tugasnya. Kesepakatan itu dibuat supaya kita semua dapat merayakan peristiwa dari taman Getsemani menuju ke Golgota hingga Yesus dimakamkan. Kehendak Bapa di Surga mesti terwujud, tapi untuk menjalankan kehendak itu, ada kesempatan bagi kejahatan, kekerasan, dan dosa ikut ambil bagiannya. Hal ini tentu saja berlaku bagi kita, oleh karena itu Yesus sudah menetapkan perjanjian, bahwa semua kesulitan dan penganiayaan akan datang menimpa setiap para pengikutnya. Ketika kita menjalankan kehendak-Nya, godaan-kesulitan-penderitaan-penganiayaan itu ikut menyertai. Tuhan melihat, mengizinkan dan menyetujui itu. Kesepakatan telah terjadi bagi kita.
“Ya, Tuhan, semoga kami tetap mengikuti model Yesus Kristus dalam menghadapi segala penderitaan hidup ini. Amin.”
(Verbum Veritatis oleh RP. Komunitas SDB-Salesians of Don Bosco)

