“Do something great.” – Rio, Scj.
…
| Red-Joss.com | Di zaman hyper koneksi seperti sekarang ini, kesendirian menjadi penting, tapi sering terasing. Pada hal banyak tokoh penting menghasilkan pemikiran brilian dari kesendirian, bahkan dalam kondisi terasing. Pramoedya Anantatoer menghasilkan Tetralogi buku dalam penjara. Abraham Lincoln menorehkan pidato terbaik Gettysburg setelah beberapa minggu berefleksi di makam pahlawan.
Kesendirian itu tidak selalu mengisolasi diri di tempat terpencil. Kesendirian itu sebuah keadaan di mana pikiran kita terbebas dari pemikiran orang lain. Ia hanya memikirkan buah pemikirannya sendiri. Saat itulah kita menjernihkan pikiran. Jernih memahami suatu hal, diri atau keadaan secara mendalam.
Ketika dalam kesendirian itu keseimbangan emosi terbentuk. Sebuah refleksi diri yang tidak tergesa-gesa dan teraniaya oleh komentar dan nyiyiran. “Hanya ada aku dan Tuhan.”
Tantangan terbesar kesendirian selain diri sendiri adalah ponsel pintar. Dengan aplikasi dan medsos yang berjibun, pikiran kita selalu ramai, tak pernah sepi, menarik, dan tidak membosankan.
Kesendirian itu semakin asing dan terasing. Padahal saat kesendirian itu idea kreatif muncul, solusi bagi permasalahan dan cobaan. Lebih fokus, jelas apa dan siapa yang penting dan berarti.
Coba mulai hari ini. Diawali dari hal yang sederhana, akhir pekan tanpa ponsel, kerja tanpa ponsel, olahraga tanpa ponsel, berdoa tanpa ponsel. Izinkan indra menyerap apa yang kita lihat, dengar, rasa, dan kita cium. Biarkan sensasi ini melahirkan idea kreatif dan merefres rasa dan pikiran. Inilah saat mengurai apa yang kusut dalam hati. Apa yang tak tercerna dalam pikiran. Saat itulah kesendirian berbuah kelegaan, kejernihan, dan restorasi.
Semoga dalam kesendirian itu, kita makin kreatif dan produktif!
Deo gratias.
…
Edo/Rio, Scj

