Tidak semua yang menyenangkan dapat memuaskan, dan tidak semua yang menyenangkan dan memuaskan bisa mendatangkan kebahagiaan. Akhirnya setiap orang dihadapkan pada pilihan: Sengsara membawa nikmat atau kenikmatan yang mendatangkan penderitaan?
Iblis menawarkan 3 kesenangan duniawi yang memuaskan selera manusia, yakni:
- 1. Makanan (urusan perut). Makanan enak itu selalu menarik untuk disantap. Kesulitan banyak orang adalah tidak mampu mengatakan cukup terhadap yang sedang disantap. Sindiran orang: “Lapar bicara lain, kenyang bicara lain.” Artinya pembicaraan seseorang tergantung pada kenyang atau laparnya dia pada saat itu.
- 2. Kekuasaan (urusan kedudukan, kuasa dan nafsu menguasai orang lain). Kata orang bijak, “Bila Anda ingin tahu karakter seseorang, maka berilah dia kekuasaan.”
- 3. Kesenangan (soal selera, gaya hidup dan martabat seseorang). Kadang kesenangan itu lebih diutamakan daripada keselamatan jiwa.
Yang bisa kita renungkan:
1) Ingat, bahwa makanan, kekuasaan dan kesenangan itu ditawarkan oleh Iblis bukan oleh Tuhan;
2) Sebaliknya, Tuhan menawarkan cara untuk menghindari diri, hati, jiwa dan pikiran dari tawaran Iblis itu;
3) Apakah Tuhan tidak menghendaki kita kenyang, berkuasa, dan senang?
Jawabannya: Tuhan pasti mengizinkanya asalkan semuanya itu bukan jadi obsesi atau tujuan melainkan sebagai sarana dalam hal;
a) Makanlah secukupnya, karena apa yang lebih atau sesaat, ketika Anda membuang makanan maka ingatlah Anda telah menyantap bagian saudaramu yang sedang lapar. Ingatlah, bahwa banyak orang tidak tahu harus makan apa pada saat Anda membuangnya;
b) Kekuasaan diberikan kepadamu bukan untuk menindas dan menguasai orang lain, melainkan melayani dan mensejahterakan mereka yang Anda layani;
c) Kesenangan tidak selamanya membahagiakan. Maka batasilah dirimu untuk menikmati kesenangan duniawi. Sebaliknya fokuslah pada keselamatan jiwamu kelak.
Akhirnya sengsara atau nikmat adalah pilihan. Namun ingatlah, bahwa menolak semua yang ditawarkan dunia bukanlah sebuah kebodohan, melainkan jalan derita kecil menuju keselamatan kekal.
Monsignor RD Inno Ngutra

