Red-Joss.com – Banyak cara digunakan pengusaha untuk menarik minat orang yang lapar mata alias pembeli agar dagangannya laris manis. Misalnya Cuci Gudang, Diskon Gede-gedean,
Super Diskon, dan seterusnya.
Bagi saya pribadi yang membuka toko retail, untuk mendongkrak penjualan itu, saya jadi pemburu.
Saya rajin menelpon pelanggan. Tujuannya, silaturahmi untuk membangun kedekatan, sekaligus saya mengingatkan stok mereka, jika tinggal sedikit atau habis. Khususnya, menjelang hari-hari besar, seperti Natal, Tahun Baru, dan Imlek, di mana harga barang cenderung naik. Saya juga memberi pelanggan dengan harga ekstra.
Harga ekstra, dengan memberi harga ekstra itu tujuannya untuk menarik pelanggan agar mereka menyetok barang. Sekaligus untuk meningkatkan omset penjualan.
Ternyata untuk akhir tahun kali ini, harga ekstra yang saya tawarkan kepada pelanggan itu ditanggapi dengan sikap dingin, cuwek, dan masa bodoh!
Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Dulu, ketika pelanggan diinfokan harga mau dinaikkan, mereka dengan cepat merespon dan memesan, bahkan jor-joran memborong untuk stok.
Sekarang jauh berbeda. Pandemi panjang yang disusul dengan krisis energi, pangan, dan krisis ekonomi membuat daya beli masyarakat makin melemah. Di mana-mana terjadi krisis pembeli.
Lebih parah lagi, ketika saya survei ke kantong-kantong industri di Jabotabek, saya mendapati banyak industri yang hendak memindahkan usahanya ke Jawa Tengah. Alasan utamanya adalah UMR yang relatif murah.
Sesungguhnya harga ekstra atau diskon gede-gedean itu mengajak kita untuk bersikap bijak. Teliti sebelum membeli, bukan sekadar menuruti keinginan dan jor-joran. Tapi kita membeli barang sesuai kebutuhan dan manfaatnya.
Sedang bagi orang beriman, diskon itu berarti kesempatan untuk renkonsiliasi dengan Allah Yang Maha Pengasih dan Penyayang. Terutama, setelah timbul bencana alam, gunung melentus, gempa bumi, atau banjir.
Sesungguhnya, pageblug itu untuk mengingatkan kita agar perbaiki diri, hidup makin baik, dan berkenan bagi Allah.
Kesempatan emas yang tidak boleh kita sia-siakan!
…
Mas Redjo

