| Red-Joss.com | Kita harus bisa membedakan dengan baik antara mengalami emosi (= feelings) dan mengungkapkan emosi (= feelings).
Sebagai catatan awal, semua emosi itu tidak ada yang buruk. Yang buruk adalah cara mengungkapkannya yang tidak tepat atau tidak bijaksana.
Jika kita tidak bisa membedakan antara cara mengalami emosi dan mengungkapkannya, lalu yang terjadi, ya sudah, tidak terkendali lagi. Dampaknya memang sangat buruk. Tanpa sadar, pasti kita pernah mengalami itu.
Saya pernah berbagi pengalaman tentang bagaimana caranya membedakan antara mengalami emosi dan bagaimana caranya mengungkapkan emosi?
Sejauh yang saya alami, dampaknya dahsyat, akhirnya saya bisa mengenal diri saya 100%. Rasanya hati senang sekali, karena bisa mengenali diri ini, sejak dari bangun pagi, beraktivitas, hingga hendak istirahat di malam hari. Terus waktu berputar seperti itu, dan saya dihadapan dengan gambaran diri yang utuh itu.
Bahkan yang menarik, jika kita bisa mengolah dan membedakan antara mengalami emosi dan bisa mengungkapkannya dengan baik, emosi-emosi yang kita punyai itu bisa menjadi guru yang baik dan yang luar biasa, bisa menjadi penyembuh bagi diri kita sendiri.
Kita tentu pernah mendengar dalam Injil tentang seorang wanita yang sudah 18 tahun dikuasai oleh roh jahat. Jalannya sampai tidak bisa tegak. Dia berjalan membungkuk. Dia minder, dia tidak percaya diri, dan dia selama jangka waktu yang panjang itu telah membawa beban yg sangat berat. Tapi Tuhan Yesus hadir dan menyembuhkannya.
Aku sangat senang membaca kisah ini. Aku sangat terharu setiap kali membacanya. Kemudian muncul rasa syukur dan dan rasa terima kasih kepada Tuhan, Sang Penyembuh tidak pernah berhenti.
Mengapa? Karena tahun 2005, saat saya mengikuti Retret Penyembuhan Luka Batin, aku juga telah dipulihkan oleh Tuhan Yesus dari luka-lukaku. Tepatnya, tanggal 07 Agustus 2005. Kisah yang terbaik dalam hidupku. Aku sembuh dari luka itu
Karena pernah mengalami itu, saya tahu betul sekarang, apa itu artinya luka. Bagaimana rasanya saat luka itu bisa disembuhkan…
Sekarang saya juga tahu caranya membedakan antara mengalami emosi (=feelings) dan bagaimana cara mengungkapkan emosi (=feelings) itu. Aku tidak mau mencampur-adukkannya. Aku, tiap hari harus bisa membedakannya. Karena emosi (=feelings) itu bisa menjadi “guru dan penyembuhku.” Apalagi di saat melihat Guruku yang dimahkotai duri penuh luka, aku sujud menyembah!
Terima kasih Tuhan Yesus, luka-lukamu, menyembuhkan aku dan kami semua.
…
Rm. Petrus Santoso SCJ

