| Red-Joss.com | Pagi itu, ketika menunggu antrian di sebuah rumah pengobatan di Bogor, tanpa sengaja saya mendengar perbincangan seorang murid dengan Gurunya.
“Guru, mengapa sering kudapati pengobatan yang diberikan kepada seseorang amat cepat memberikan hasil sedangkan kepada yang lain begitu lambat?”
“Manusia itu amat kompleks dan sulit untuk dimengerti. Sebelum suatu penyakit bermanifestasi dalam tubuh ini, biasanya dimulai dari pikiran yang mempengaruhi emosi. Sehingga berdampak pada organ-organ tubuh berupa sakit penyakit,” jelasnya. Kesembuhan itu juga bergantung pada pribadi yang bersangkutan dalam menyikapi penyakit dan metode penyembuhan digunakan.
Mendengar obrolan Guru dengan muridnya itu, pikiranku melayang pada beberapa buku yang pernah kubaca, yakni tentang rahasia kesembuhan.
Jin Shin Jyutsu, misalnya. Sebuah metode pengobatan Jepang yang menjelaskan, bahwa pikiran yang menimbulkan kekhawatiran itu (worry) akan mempengaruhi lambung dan limpa. Ketakutan (fear) mempengaruhi ginjal dan kandung kemih. Kemarahan (anger) berpengaruh pada lever dan kantong empedu. Kesedihan (sadness) berpengaruh pada paru-paru dan usus kecil. Sedangkan perasaan kecil dan tak berarti akan mempengaruhi jantung dan usus besar.
Bisa jadi seperti itu, ketika organ-organ tubuh merespon pikiran yang muncul dan berkecamuk dalam diri kita. Tapi di belahan dunia lain, Louise Hay seorang wanita yang sembuh dari penyakit kanker bercerita, bahwa semua orang memiliki kesempatan yang sama untuk sembuh seperti yang dialaminya. Ketika kita berani memilih untuk menenangkan pikiran, dan membuang segala hal buruk yang berkecamuk di hati ini. Misal marah, iri dengki, kepahitan hati (resentment), rasa bersalah, dan banyak lagi.
“Mulailah dengan mencintai diri sendiri, bahwa kita ini sangat berharga dan dicinta Allah,” Louise Hay membagikan rahasia kesembuhan dirinya.
Apakah sesederhana itu resep kesembuhan? Bagaimana jika itu suatu kebenaran, ketika kita mendengar banyak cerita yang sama dari mereka telah sembuh?
Coba rasakan dan resapi. Ketika kita menarik nafas bisikkan dalam hati kata-kata ini, “tenang, damai, bahagia.” Ketika membuang nafas iringilah dengan bisikan lembut: ‘sukacita’. Izinkan pikiran itu menyirami tubuh, jiwa, dan hati dengan segala harapan dan niat yang baik.
Saya tersadar dari lamunan, ketika Guru itu mulai didatangi banyak tamu yang mencari kesembuhan.
…
Herry Wibowo

