Nabi Zefanya menubuatkan sesuatu yang kerap terasa terbalik dari logika dunia. Ia menyampaikan, bahwa Tuhan tidak berpihak pada kesombongan, kekuasaan yang menindas, atau rasa aman palsu yang dibangun manusia atas kekuatan dirinya sendiri. Justru Tuhan berjanji meninggalkan sisa umat yang rendah hati dan miskin. Mereka tidak mengandalkan kuasa, jabatan, atau nama besar, tapi berharap sepenuhnya pada Tuhan. Keselamatan, menurut nubuat ini, lahir dari kerendahan hati, bukan dari keangkuhan.
Zefanya mengingatkan dengan tegas, bahwa yang orang congkak dan berkuasa yang menyalah-gunakan kekuatan itu tidak hidup dalam berkat Allah. Kekuasaan yang dipakai untuk menindas sesama justru menjauhkan manusia dari wajah Allah. Ia tidak terkesan oleh tampilan luar yang megah, tapi memandang hati yang jujur dan remuk. Di hadapan-Nya, kesombongan adalah tembok yang menghalangi rahmat, sementara kerendahan hati membuka jalan bagi keselamatan.
Pesan ini ditegaskan kembali oleh Yesus Kristus dalam pewartaan-Nya. Ia berkali-kali menunjukkan, bahwa Kerajaan Allah dekat dengan mereka yang tertindas, lapar, menangis, dan dianiaya. Ia berkata, ketika orang-orang kecil berseru kepada Allah, jeritan mereka itu tidak pernah diabaikan. Tuhan bukan Allah yang jauh dan tuli, tapi Allah yang segera datang menolong, ketika ketidakadilan membuat manusia tak berdaya.
Yesus sendiri hidup di tengah orang-orang yang dipinggirkan. Ia makan bersama pemungut cukai, menyentuh orang sakit, dan membela mereka yang diremehkan. Dalam setiap tindakan-Nya, Yesus menyingkapkan wajah Allah yang berpihak pada mereka yang tidak memiliki siapa-siapa selain Tuhan. Di mata dunia mereka hina, tetapi di mata Allah mereka berharga dan dikasihi.
Kita dapat membayangkan seorang buruh kecil yang haknya dirampas, suaranya diabaikan, karena tidak mempunyai kuasa atau relasi. Ketika ia akhirnya hanya bisa berdoa dalam diam, Tuhan bekerja dengan cara yang tidak disangka: hati orang-orang berubah, kebenaran terungkap, dan jalan keadilan dibuka sedikit demi sedikit. Bukan karena kekuatannya, melainkan karena ia berseru kepada Allah dengan hati yang jujur dan rendah serta penuh harapan.
Keselamatan yang dijanjikan Tuhan bukan milik mereka yang merasa paling kuat, melainkan milik mereka yang berani berharap kepada Allah di tengah kelemahan dan kesulitan. Dalam kerendahan hati itu Tuhan menyatakan keselamatan-Nya kepada semua orang yang hina dina.
“Ya, Allah yang Maha Kuasa, mampukan kami berbuat seperti Yesus Kristus yang sangat berbelas kasih kepada orang-orang yang susah dan menderita. Amin.”
(Verbum Veritatis oleh RP. Komunitas SDB-Salesians of Don Bosco)

