“Kesetiaan mungkin membawa kita ke kandang singa, tapi di sanalah kemuliaan Allah dinyatakan.”
Sabda Allah memperlihatkan kesaksian Daniel yang setia, bukan ketika segalanya baik, melainkan juga kesetiaannya membawa dia ke tempat yang paling gelap: kandang singa. Justru di situlah Allah menyingkapkan kuasa-Nya. Daniel tidak berhenti berdoa. Ia tidak menyerah. Ia tetap memandang kepada-Nya. Allah yang hidup menunjukkan, bahwa tidak ada kuasa yang mampu membungkam iman yang bersandar pada-Nya.
Inilah misteri iman:
Ketaatan bisa saja membawa kami pada bahaya, tapi tak akan pernah memisahkan kami dari kemenangan yang daripada-Nya.
Kesetiaan mungkin menempatkan kami di kandang singa, tapi tak dapat memisahkan kami dari pertolongan-Nya.
Pemazmur mengajak seluruh ciptaan ikut memuji:
“Matahari dan bulan, pujilah Tuhan…
Api dan panas, pujilah Tuhan…
Segala binatang di bumi, pujilah Tuhan.”
Seluruh jagat raya, bahkan singa-singa di dekat Daniel bersaksi, bahwa Tuhan yang berkuasa atas segala sesuatu.
Dalam Injil, Yesus berbicara dengan ketegasan yang sama. Ia menubuatkan kejatuhan Yerusalem dan pergolakan akhir zaman. Bukan untuk menakutkan, melainkan untuk membangun keberanian. Dunia dapat diguncang, tapi murid-murid Kristus dipanggil untuk tegak berdiri dan mengangkat kepala. Sebab penderitaan bukan tanda penolakan, melainkan tanda, bahwa penebusan sudah dekat.
Ajari kami, ya, Bapa, sikap batin ini:
tidak panik ketika dunia bergejolak;
tidak menaruh harapan tertinggi pada kuasa dunia; tidak tertipu oleh paham, bahwa sistem buatan manusia dapat menciptakan damai sejati.
Segala kerajaan dunia akan berlalu,
tetapi Kerajaan-Nya tetap untuk selama-lamanya. Seperti Daniel, kami memilih untuk percaya, bukan pada keadaan, tapi pada kesetiaan-Nya.
Yesus Tuhan kami, yang tersembunyi, tapi sungguh hadir dalam Ekaristi. Engkaulah Bait Suci kami, Damai dan Penebus kami.
Ketika ketakutan mengurung, dunia membingungkan, dan pergumulan terasa seperti singa yang mengaum, ajarilah kami memandang kepada-Mu, berdiri teguh, dan mengangkat kepala dengan penuh pengharapan.
Ketika banyak saudara kami di Amerika Serikat merayakan Thanksgiving (Hari Pengucapan Syukur), kami pun ingin bersatu dalam syukur; bukan hanya atas berkat duniawi, melainkan terutama atas anugerah abadi berupa kehadiran-Mu, kerahiman-Mu, dan Kerajaan-Mu yang tak tergoncangkan.
Biarlah hati kami tetap dipenuhi syukur. Sebab setiap napas, rahmat, dan sentuhan kasih-Mu adalah alasan untuk memuji nama-Mu.
Yesus, Raja Semesta Alam,
bertakhtalah dalam hati, keluarga, dan dunia kami. Amin.
HD
(Bapak Herman Dominic dari Paroki Annunciation Church, Arcadia, di Keuskupan Agung Los Angeles, IC-ADLA)

