Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Ada langit dan bumi,
siang dan malam, terang dan gelap,
api dan air”
(Keseimbangan Alam)
Ibarat Sekeping Koin
Jika Anda dan saya sungguh mau merenungkan, misteri dan filosofi dari proses serta dinamika kehidupan ini, maka kita menyadari akan adanya sebuah misteri, ialah yang bernama ’hukum keseimbangan’. Keberadaannya ibarat sekeping koin yang memiliki dua buah sisi saling melengkapi.
Filosofi Yin dan Yang
Dalam budaya dan tradisi Tiongkok kuno, dikenal adanya ‘filosofi yin dan yang,’ yang mendeskripsikan, bahwa selalu ada ‘dua buah kekuatan yang saling berlawanan, tapi justru sekaligus saling melengkapi.’
Secara natural kita mengenal adanya ‘siang dan malam, terang dan gelap, pandas dan dingin. Keberadaan ini, bukankah merupakan sebuah keseimbangan yang bersifat alami?
Bahkan keduanya saling melengakapi, tidak terpisah, dan bahkan saling membutuhkan. Itulah sebuah keseimbangan sebagai kunci harmoni. Bahwa di dalam ‘titik yin ada unsur yang, dan di dalam titik yang ada unsur yin’. Keduanya tidak saling memotong; namun justru saling memuat dan melengkapi.
Amanat Agung dari Santo Paulus kepada Jemaat di Korintus
Kita adalah bagian dari satu tubuh, yaitu tubuh Kristus. “Matamu tidak lebih penting daripada mulutmu, dan mulutmu tidak lebih penting daripada hidungmu, namun semuanya akan saling melengkapi.”
Bertolak dari kedua dasar pemikiran dan pengajaran hidup, yakni ‘filosofi yin – yang dan pengajaran Santo Paulus,’ maka kini kian sadarlah kita, bahwa sesungguhnya, di dalam kehidupan ini selalu terdapat suatu keseimbangan, itulah yang dinamakan ‘hukum keseimbangan yang harmoni.’
Perbedaan itu Indah dan Bermakna
Semoga lewat amanat sebagai spirit dari isi tulisan ini, kita bersikap dan bertindak lebih arif di dalam kehidupan berkomunitas di ruang publik yang sangat pluralis ini. Bahkan bukankah sebuah perbedaan itu justru kian indah dan bermakna, ibaratnya sebuah taman bunga dengan aneka warna?
Indah dan majemuknya sebuah negeri di belahan Khatulistiwa ini ibarat sepotong Surga yang terpental dari Langit Tinggi. Ia indah laksana ratna mutu manikam, sebuah kharisma tiada tara yang dipersembahkan kepada kita di sebuah negeri cantik dari Timur ini.
Dendang sebagai Amanat Akhir
Marilah kita hidup sambil merangkai jemari tangan dan nurani tulus kita, sambil berdendang, “Dari Sabang sampai Merauke berjajar pulau-pulau, sambung – menyambung menjadi satu itulah Indonesia.”
Adalah sebuah fakta, walaupun telah lama kita berdiri berjejer dan berjajar, namun sering kali juga kita masih merasa terasing dan terpisah. Jika memang senantiasa demikian, maka kita ini ibarat sang tuan yang lupa, bahwa sekeping koin itu justru memiliki dua sisi yang berbeda.
Bukankah, berbeda itu indah dan berbeda itu pun rahmat!
Kediri, 20 Juli 2025

