Manusia: Bernafas, berpikir, merasa, dan berefleksi.
- Bernafas, tanda manusia itu masih hidup.
- Berpikir, tanda manusia itu tetap bisa mempertahankan kewarasannya.
- Merasa, tanda, bahwa ada cinta yang abadi pada diri manusia.
- Berefleksi, tanda yang membawa manusia itu menuju pada kemerdekaan jiwa.
“Apa yang terjadi, ketika keempatnya tidak berjalan dengan normal?”
Nafas ini terganggu! Sesak! Tidak ada kesegaran yang dirasakan dari udara yang masuk dan ke luar.
Pikiran ini jadi ‘buntu, tidak waras, dan tidak berakal sehat.
Hati ini dipenuhi dengan rasa malu, khawatir, marah, dan sedih. Empat rasa yang membuat manusia memiliki energi yang positif.
Hidup ini ‘berhenti’, karena tidak ada pertumbuhan rohani dan spiritual yang signifikan.
Saatnya: Dimulai kesadaran baru!
Menangkap setiap proses yang terjadi dalam diri kita sebagai “penyembuhan, pendamaian, dan pemurnian.” Melihat, bahwa semua hal yang terjadi, tetap sebagai pelajaran hidup untuk sesuatu yang lebih baik.
Dari titik, di mana kita berjalan lagi, dengan tanpa keraguan merengkuh kembali “kepercayaan yang lebih besar, harga diri yang lebih kuat, dan kedamaian yang tidak tergoyahkan.”
Akhirnya, “We cannot choose how we feel, but we can choose what we do about how we feel” – “Kita tidak bisa memilih, bagaimana perasaan kita, tapi kita bisa memilih apa yang kita lakukan terhadap perasaan kita”.
Setiap rasa dalam diri manusia itu akan ada dan mengikuti setiap tarikan nafas, yang dirasakan, yang dipikirkan dan yang direfleksikan oleh kita.
Itulah sebabnya: “Feel your feelings, follow your faith” – “Rasakan perasaanmu, ikuti imanmu”.
Rm Petrus Santoso SCJ

