Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Patientia Amicus Dei”
“Penyabar adalah Kekasih Tuhan”
Mengapa dunia sangat merindukan figur-figur penyabar? Mengapa pula dunia sangat memuliakan figur penyabar?
Ingatlah! Dunia telah bersepakat, bahwa figur penyabar itu adalah kekasih Tuhan. “Patientia Amicus Dei,” kata orang berbahasa Latin.
Jawaban yang Menyejukkan Hati
Alkisah, di saat Nabi Muhammad SAW dan sahabatnya, Ali sedang berjalan-jalan, keduanya bersua dengan seorang pria yang menghina Ali dengan kata-kata kasar.
Ali masih bisa menahan diri. Tapi, karena terus dihina, maka hilanglah kesabaran sahabat sang Nabi itu. Ali mulai membalas cercaan itu dengan cercaan yang tidak kalah memalukan.
Diam-diam Nabi itu segera meninggalkan kedua orang yang sedang asyik saling olok-mengolok.
Suatu saat, ketika Ali bertemu kembali dengan sang Nabi, maka, berkatalah ia, “Mengapa engkau justru meninggalkan saya, di saat sedang menghadapi penghinaan kala itu?”
“Sahabatku, kala orang yang berwatak kasar itu menghina engkau, dan engkau diam saja, aku sempat melihat ada sepuluh orang Malaikat melindungimu dan berpihak padamu. Ketika engkau mulai berbalik menghinanya, maka kesepuluh Malaikat itu seketika mulai meninggalkan engkau dan begitu pula aku memutuskan untuk juga meninggalkanmu.”
Tony Castle
(1500 Cerita Bermakna)
Reaksi Kita akan Menunjukkan Siapakah Kita
Kita tidak tahu, apa dan bagaimana reaksi Ali, tatkala ia mendengar kesaksian dari sang Nabi, bahwa di saat diam dan tidak membalas hinaan itu, ternyata ada makhluk Surgawi yang datang menyokongnya? Apakah ia sadar dan menyesalinya, ataukah justru tidak menggubrisnya?
Ketahuilah, bahwa bagaimana “reaksi seseorang di saat menghadapi permasalahan, tentu tidaklah selalu sama, bukan?” Tapi reaksi apa pun yang diperlihatkan, justru akan menunjukkan karakter orang itu? Apakah dia penyabar, setengah sabar, ataukah justru pribadi yang bersumbu pendek?
Misteri Agung di Balik Sikap Sabar Seseorang
Misteri yang paling agung, justru tatkala seseorang itu mampu mengelolah emosi dan pikiran, serta memahami, bahwa setiap situasi memiliki proses waktunya sendiri. Kesabaran itu tidak berarti, bahwa seseorang tidak memiliki perasaan, tapi dia memilih untuk meresponsnya dengan cara yang lebih bijaksana.
Refleksi
“Mengapa penyabar itu dikatakan sebagai kekasih Tuhan?”
Ya, karena kesabaran itu menunjukkan suatu kekuatan spiritual dan ketaatan seseorang dalam menghadapi cobaan dan kesulitan.
Kesabaran itu dianggap sebagai salah satu sifat yang paling mulia dan dekat dengan kebijaksanaan Ilahi!
“Kesabaran itu memang pahit rasanya, tapi buahnya manis.”
(Jean Jacques Rousseau)
Kediri, 1 April 2026

