| Red-Joss.com | Rindu pada Ibu kandung itu biasa. Tapi rindu pada Bunda Maria itu yang luar biasa. Apakah kau selalu merindukan Bunda Maria?
Hal itu sering saya alami, bahkan teramat sering saya rindu pada Bunda Maria. Karena saya jauh dari orangtua. Sehingga saat saya mempunyai masalah berat dan sulit untuk dihadapi sendiri, saya selalu mengadu pada Bunda Maria agar hati ini menjadi tenang dan tentram.
Padahal jujur, saya pernah kecewa pada Bunda Maria, sehingga saya menjauhinya.
Kekecewaan saya pada Bunda Maria, ketika doa Tri Sembah Bekti yang rajin saya daraskan itu belum berhasil. Karena lamaran pekerjaan saya tidak ada yang nyangkut alias gagal dan sia-sia. Sehingga saya memutuskan untuk hijrah ke Jakarta.
Sewaktu saya mengikuti kegiatan di Gereja, saya diajak oleh teman untuk bergabung dengan Legio Maria, organisasi kerasulan awam Katolik.
Entah kenapa dan tanpa berpikir panjang, saya mengiyakan untuk bergabung. Tiba-tiba saya menjadi rindu pada Bunda Maria.
Jika Ibu saya adalah pribadi yang sabar dalam menyikapi perilaku anak-anaknya, tapi Bunda Maria lebih dari itu. Tidak hanya sabar, Bunda Maria amat lembut hati dan sangat mengasihi putra-putrinya.
Rekonsiliasi dengan Bunda Maria membuat saya ingin mengenal dekat Bunda Maria.
Saya juga tidak habis pikir, saya bisa jatuh cinta dengan organisasi ‘kerawan’ ini. Meski bidang pelayanannya berat. Jika dijalani dengan hati, saya merasa tiada beban, dan bahagia.
Pelan tapi pasti, saya makin akrab dengan Bunda Maria. Melalui jalan kerendahan hati Bunda Maria, saya belajar memahami rencana dan kehendak Allah dalam hidup saya.
Selalu komitmen dan konsisten adalah prinsip saya untuk piawai membagi waktu dengan baik antara karier dan pelayanan kerawan agar semua berjalan seirama dan harmoni.
Keteladanan Bunda Maria untuk menyikapi peristiwa hidup dengan rendah hati itu memotivasi saya untuk selalu kedepankan kasih agar jauh dari emosi.
Selalu merenungkan persoalan hidup dalam hati itu yang menjadi fondasi saya dalam menjalani hidup keseharian. Sebagai laskar Maria, saya selalu mohon pendampingan Bunda Maria agar makin piawai dalam mencerna, mengelola, dan menyelesaikannya persoalan hidup ini dengan baik.
“Aku ini hamba Tuhan, terjadilah padaku menurut perkataan-Mu itu,” adalah nafas penyerahan totalitas hidup ini pada Allah.
Totalitas penyerahan diri itu ditutup dengan doa dari Tessera yang indah dan membahagiakan jiwa:
“Semoga jiwa-jiwa para anggota Legio kami, dan jiwa-jiwa orang beriman, beristirahat dalam ketenteraman, karena kerahiman Tuhan.”
Amin.
…
Mas Redjo

