Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Kita pun membutuhkan: penghargaan, cinta, dan pujian.”
(Didaktika Hidup Bahagia)
Tujuan Hidup Manusia
“Kebahagiaan secara lahir-batin” itulah salah satu tujuan hidup kita manusia di bumi maya ini. Apa dan siapa pun dia, pasti memiliki obsesi yang satu dan sama ialah “rindu agar ia dapat meraih suatu kebahagiaan hidup.”
Keunikan Manusia
Manusia itu sesuai kodrat dan bawaannya, memang dikenal sebagai makhluk yang sangat spesial serta unik. Sejatinya, sungguh bahwa tidak ada dua pribadi yang persis sama. Bahkan saking unik dan spesialnya, tidak jarang, kehadiran si unik itu dapat jadi batu sandungan dan pergunjingan di dalam komunitas hidupnya.
Mari, Cermati dengan Saksama Kisah berikut!
Si Unik yang Membingungkan Sesamanya
Di sebuah panti sosial di Amerika, terdapat seorang gadis kecil berusia delapan tahun yang dikenal sebagai ‘si unik’ yang perilakunya sering kali dapat membingungkan penghuni lainnya dalam panti itu. Dia sering disalahpahami dan dijauhkan oleh rekan seusianya serta para pendampingnya. Mereka bersikap masa bodoh terhadapnya.
Suatu hari, rekan-rekannya melihat pola tingkahnya justru kian aneh, karena ia tampak sangat sibuk menuliskan sesuatu di secarik kertas dan menyelipkannya di mana-mana. Ada yang diselipkan di antara dedaunan pohon dan ada pula yang ditempelkan di dinding panti.
Menyaksikan keanehan itu, anak-anak lain segera melaporkan kepada pemimpin panti. Mendapat laporan dari para rekannya, pemimpin panti itu segera mengundang para guru pendamping untuk mencari tahu, apa alasan dan bagaimana solusinya.
Si gadis unik itu segera dipanggil dan diinterogasi. “Engkau harus mengatakan kepada kami, apa alasanmu menuliskan sesuatu di secarik kertas dan kemudian menyelipkannya di mana-mana?”
“Tolong, Nak, katakan kepada kami, di manakah engkau menyelipkan kertas-kertas itu?”
Dengan tanpa mengucapkan sepatah kata ia segera berlari menuju ke sebatang pohon. Mereka melihat secarik kertas digantungkan di sana. Lalu mereka mengambilnya.
Dengan huruf miring, tertulis demikian, “Siapa saja yang menemukan kertas kecil ini, saya hanya ingin mengatakan kepadanya, bahwa saya sungguh mencintai kamu.”
Bert Bailing
(1500 Cerita Bermakna)
“Sesungguhnya, apa yang sedang dicari oleh si gadis unik nan Malang itu?”
Kita pun adalah si Dia
Pada prinsip dan esensinya, bahwa kita adalah si gadis kecil delapan tahunan itu. Dalam konteks yang sungguh spesial secara psikologis, justru kita sedang mencari sesuatu yang hilang.
Apa yang sirna itu? Ya, sekeping kerinduan, sebatas kehilangan, segenggam kesepian dan kesendirian, suatu keterasingan, dan dahaga seteguk air cinta. Ya, kita sedang sibuk mencari jati diri kita, yang sirna entah di mana dan ke mana.
Refleksi
“Siapa pun yang menemukan kertas itu, sesungguhnya, saya hanya ingin mengatakan, bahwa saya mencintainya!”
Saya terharu, ketika sungguh mencermati untaian kalimat dari kerinduan bocah delapan tahun itu. Ternyata selama ini, kita telah menghakimi dan menghukumnya secara sosial dan psikologis, bukan? Sungguh, kita telah salah menilainya dan kita telah bersikap tidak adil kepadanya. Sungguh, betapa kerdil dan kejamnya kita sebagai kaum dewasa yang telah tega menyingkirkan seorang anak yang tidak berdosa ini.
Sungguh betapa rapuh dan dangkalnya sikap serta pandangan kita kepada seorang anak kecil.
Jangan-jangan, justru kitalah si pengganggu nan unik di dalam komunitas hidup dalam panti hidup kita.
Jika memang demikian adanya, maka sesungguhnya, betapa kejamnya kita!
Kediri, 25 Oktober 2025

