“Tuhan melihat hati, memanggil yang tidak layak, dan memahkotai hidup dengan kerahiman.”
Allah menyingkapkan kasih-Nya yang tidak didasari rupa, jasa, atau perhitungan manusia, tapi menurut kebijaksanaan hati-Nya.
Allah menuntun Saul melalui perjalanan yang tampaknya biasa dan bahkan sia-sia, mencari keledai yang hilang, melangkah tanpa kepastian, berjalan tanpa arah yang jelas. Tapi sesungguhnya, di balik semua itu, Allah sedang berkarya. Sebelum Saul mengenal panggilannya, Allah telah melihatnya. Sebelum Saul memahami tujuannya, Ia telah memilihnya. Allah mengajarkan pada kami, bahwa hidup ini tidak pernah kebetulan. Bahkan ketika kami merasa tersesat, tangan-Nya tetap membimbing kami menuju rencana-Nya.
Dalam Injil, Yesus melakukan hal yang sama kepada Matius. Dengan dua kata sederhana, “Ikutlah Aku!”Hidupnya diubah. Matius tidak layak. Ia tidak mencari panggilan itu. Namun kerahiman menjumpainya tepat di tempat kelemahannya, dan mengangkatnya masuk ke dalam persekutuan. Ia bangkit seketika, bukan hanya meninggalkan meja dosanya, melainkan memasuki hidup baru yang dipenuhi kasih.
Mazmur 21 mengajarkan, bahwa sukacita sejati seorang Raja bukanlah kuasa atau kejayaan duniawi, melainkan kegembiraan dalam kekuatan Tuhan. “Tuhan, karena kuasa-Mu, Raja bersukacita.” Demikian pula dengan Saul, Matius, dan dengan kami. Setiap martabat dan pembaruan hidup yang kami alami bersumber dari kerahiman-Nya. Dia memahkotai umat-Nya bukan karena mereka sempurna, melainkan karena mereka percaya kepada-Nya.
Yesus duduk makan bersama para pendosa, menyingkapkan hati Allah sendiri. Apa yang ditakuti orang lain untuk disentuh, Ia dekati. Apa yang ditolak, Ia sembuhkan. Kekudusan bukanlah kemurnian rapuh yang menjauh, melainkan kasih Ilahi yang mengalir ke luar, memulihkan, dan mengubah. Yesus tidak menutup mata terhadap dosa. Ia datang untuk menyembuhkannya.
Bapa, ajarlah kami untuk semakin mengasihi-Mu dengan sepenuh hati percaya kepada-Mu. Saat Engkau memanggil, mampukan kami bangkit tanpa menunda. Saat Engkau mendekati luka-luka kami, jangan biarkan kami bersembunyi dalam rasa malu. Semoga kami bersukacita, bukan karena kekuatan kami, melainkan karena kuat kuasa-Mu; bukan karena kelayakan kami, melainkan karena kerahiman-Mu.
Bantulah kami mengikuti Putra-Mu dengan hati yang penuh syukur, sebab dipanggil oleh-Nya berarti telah lebih dahulu dikasihi tanpa batas.
“Yesus, Raja Kerahiman, Engkaulah Andalanku. Amin.”
HD
(Bapak Herman Dominic dari Paroki Annunciation Church, Arcadia, di Keuskupan Agung Los Angeles, IC-ADLA)

