Kini kita hidup di era yang setiap orang bisa jadi reporter. Sarana dan otorisasi berada di satu tangan. Pada saat yang sama ada ribuan orang lain yang siap menyantap berita tersebut dengan tafsirannya masing-masing. Kita mengenal pengadilan oleh media. Dalam situasi seperti itu seseorang ditempatkan sebagai tersangka tanpa daya untuk membela diri. Kalau pun sempat membela diri, biasanya orang banyak sudah terlanjur mempunyai persepsi, bahkan sudah menjatuhkan vonis bersalah.
Pengalaman perempuan yang kedapatan berbuat zina, yang kita baca dari Injil hari ini, menunjukkan kepada kita, betapa tak berdayanya seorang berhadapan dengan pengadilan massa. Sementara di pihak lain, ketika sedang merasa berada dalam posisi yang kuat, baik yang berada di kelompok mayoritas secara jumlah maupun pengaruh, orang cenderung menunjukkan kekuasaannya. Status sosial tertentu sering memengaruhi sikap seseorang berhadapan dengan orang lain. Relasi kuasa yang timpang sering membawa korban.
Yesus tahu hal itu, karena Yesus hidup, melihat, mendengar, dan bisa berempati dengan kaum marginal. la menunjukkan kepada kita sikap berhadapan dengan pendosa. Belas kasih dan pengampunan yang Yesus tunjukkan adalah momentum ‘kelahiran kembali’, sebuah ‘kesempatan kedua’ kepada si wanita.
“Aku pun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan mulai sekarang, jangan berbuat dosa lagi,” kata Yesus. Kerahiman Allah memberi pengampunan yang memulihkan kembali martabat kita.
“Tuhan, semoga kami mampu menahan diri untuk tidak menghakimi orang lain. Amin.”
Ziarah Batin

