Kepercayaan antara guru dan murid adalah fondasi yang membuat sebuah panggilan itu bertumbuh, sebuah perutusan itu jadi kuat, dan pewartaan itu jadi berbuah. Kita melihat hal ini dengan jelas dalam relasi Santo Paulus dengan dua muridnya, Timotius dan Titus. Paulus bukan hanya ‘mengajar, tapi mempercayakan tugas, menaruh harapan, dan membentuk karakter rohani mereka.
Demikian juga Yesus, ketika mengutus tujuh puluh murid untuk pergi berdua-dua: Ia tidak hanya memberi perintah, tapi memberikan kepercayaan, bahwa mereka mampu membawa damai, menyembuhkan, dan mewartakan Kerajaan Allah. Dalam iman, kepercayaan bukan sekadar perasaan aman, melainkan keputusan untuk berjalan bersama dalam kebenaran dan misi.
Keunggulan terbesar dari kepercayaan adalah lahirnya kekuatan batin untuk bertanggung jawab. Seorang murid yang dipercaya akan merasa hidupnya bermakna: ia berani melangkah, tidak mudah menyerah, dan mau belajar dari kesalahan. Kepercayaan juga menciptakan ruang untuk bertumbuh; murid tidak takut gagal, karena tahu ia dibimbing, bukan dihakimi. Selain itu, kepercayaan memperkuat kesatuan visi: guru dan murid melayani bukan untuk nama diri, melainkan untuk misi Tuhan.
Ketika Paulus mengutus Timotius dan Titus dalam pelayanan Gereja perdana, ia sedang menegaskan, bahwa kepercayaan dapat menghidupkan keberanian, kesetiaan, dan ketekunan dalam tugas.
Kepercayaan itu adalah sesuatu yang rapuh dan harus dijaga. Agar kepercayaan tidak hilang, yang paling penting adalah kejujuran, konsistensi, dan kerendahan hati. Kepercayaan runtuh bukan hanya karena kesalahan besar, melainkan sering karena kebiasaan kecil: tidak menepati janji, transparan, menutupi kebenaran, atau mulai bekerja dengan motivasi ganda. Kepercayaan juga harus dipelihara lewat komunikasi yang jelas, seperti Paulus yang terus menulis surat, meneguhkan, mengingatkan, dan mengarahkan Timotius dan Titus. Jika hubungan Guru-murid itu tidak dirawat, maka jarak itu tumbuh, salah paham mudah terjadi, dan misi perlahan kehilangan daya rohaninya.
Berikut contoh-contoh sederhana. Seorang guru memberi tugas nyata kepada murid, lalu mendampingi dengan evaluasi yang sehat. Seorang pembina meminta murid memimpin doa atau membuat pelayanan kecil, lalu setelah selesai, Guru tidak langsung mengkritik, tapi mengapresiasi dulu, kemudian memberi koreksi dengan kasih: jelas, konkret, dan membangun. Murid pun belajar, bahwa ia dipercaya, tetapi tetap diarahkan agar bertumbuh. Inilah semangat Yesus yang mengutus muridnya berdua-dua: ada tanggung jawab, ada dukungan, dan ada kebersamaan. Kepercayaan yang sejati bukan membiarkan orang berjalan sendiri, melainkan membuat orang berani berjalan, karena tahu ia tidak berjalan sendirian.
“Ya, Allah yang Maha Kasih, kuatkanlah iman kami pada setiap bentuk penyelenggaraan-Mu kepada kami, sehingga bertumbuhlah kepercayaan kami kepada-Mu. Amin.”
(Verbum Veritatis oleh RP. Komunitas SDB-Salesians of Don Bosco)

