Sekembali dari Puri, setelah melewati kemacetan di daerah Metro, tepatnya di seberang Mi Gacoan, berdiri seorang muda di tepi jalan. Saya melambatkan kendaraan dan… tiba-tiba dug … spion kiri menutup.
Saya minggir membetulkan dan saat kutengok dari spion, orangnya sudah tidak ada.
Tak berapa lama ada motor yang terus nempel di samping kiri. Ketika saya cepatkan kendaraan dia cepat juga. “Ah, gelagat tidak baik,” pikir saya.
Di depan RS Bhakti Asih orang itu menghentikan kendaraanku.
“Maaf Pak, spion Bapak menyerempet lengan keponakan saya hingga berdarah,” katanya. Walau saya heran, tinggi juga keponakannya, saya jawab: “Anda ini siapa?”
“Saya angkatan. Begini saja, Pak. Tak usah serahkan KTP atau apa, kasih saja 150.000 untuk mengobatkan keponakan saya.”
Drama penderitaan sering muncul memeras solidaritas dan subsidiaritas.
Ringkas kisah: “Bapak siapa? Saya hanya punya 10.000. Kalau mau, monggo.”
Reaksinya tak terduga: “Saya Yanto. Ya sudah kalau tidak ada. Maaf ya, Pak!”
Dia tidak garang. Sinar matanya pun teduh. Dengannya saya sempat salaman dan titip pesan: “Pak Yanto pasti terpaksa. Tapi baiknya tidak dengan cara ini.” Saya lantas ingat tulisan yang lalu: “orang kecil seperti kita tidak akan tumbang walau susah”.
Beliau menunduk, karena sepertinya saya kenal. Ah, siapa pun bisa kilaf kalau kepepet.
Salam sehat.
Jlitheng

