Oleh : Rio Scj.
“Visi memberi arah, sementara ‘the power of kepepet’ mendorong untuk bergerak. Karena kepepet adalah motivasi terbesar di dunia”. Jaya Setiabudi.
[ Red-Joss.com ] Kepepet … Jika kepepet kita pasti berpikir dan mencari jalan. Dalam kondisi kepepet otak kita dipaksa berpikir keras. Pikiran itu seperti saklar on – off. Kita bilang bisa, maka otak akan mencari jalan untuk bisa. Sebaliknya, bila kita bilang tidak bisa, maka otak jadi buntu pula.
Semua orang tentu pernah mengalami situasi kepepet, terjepit, dikejar ‘deadline’. Lembur, SKS – sistem kebut semalam, dan last minute adalah pilihan. Pilihan untuk mengelesaikan dan memaksa otak untuk kerja keras. Ingat jangan terbiasa dan dibiasakan.
3 sisi positif dari kepepet:
Pertama, aksi. Kondisi kepepet memaksa kita untuk segera bergerak, berbuat dan melakukan sesuatu. Ingat hidup kita tak akan berubah hanya dengan membaca tapi dengan aksi nyata.
Kedua, berani. Situasi kepepet membuat kita mempunyai keberanian, meski sadar akan kekurangan. Yang penting, percaya diri, tidak gengsi dan malu. Ingat gengsi itu penyakit yang tidak ada obatnya di apotek. Lebih baik kecil jadi bos, ketimbang gede jadi kuli. Orang yang tidak gengsian itu banyak rezekinya.
Ketiga, ‘kardo’ – karya dan doa. Selain kerja, beraksi dalam situasi kepepet, tingkat kepasrahan dan kepercayaan kita kepada Tuhan juga harus ditingkatkan.
Meski dalam keadaan kepepet itu mempunyai sisi positif, tapi idealnya tidak harus sampai kepepet untuk beraksi. Lebih bijak, jika kita selalu membiasakan diri untuk disiplin dalam berusaha, berjuang, dan berdoa agar mimpi dan cita-cita kita jadi nyata.
Ingat, satu keputusan tentukan masa depan. Semoga sukses.
Deo gratias.
Edo/Rio, Scj

