Di tengah semangat yang mengagungkan kekuasaan dan kenyamanan, salib jadi kontradiksi. Dalam salib, kemuliaan ditemukan dalam penderitaan, kekuatan sejati muncul dalam pelayanan. Yesus menunjukkan kepada kita, bahwa jalan kepemimpinan itu bukanlah memerintah, melainkan untuk melayani dan mengangkat yang lemah.
Kepemimpinan yang sejati itu selalu bersentuhan dengan tanggung jawab, bahkan kerelaan untuk menderita. Seorang pemimpin itu tidak lari dari salib, tapi memeluknya: rela menanggung kritik, menempatkan kepentingan orang lain di atas dirinya, dan tetap setia pada kebenaran, meskipun harus membayar harga yang mahal. Inilah yang disebut ‘servant leadership’, gaya memimpin seperti Kristus, yang “tidak datang untuk dilayani, tapi untuk melayani dan memberikan nyawa-Nya.” Kepemimpinan seperti ini membutuhkan keberanian untuk mengambil risiko: berani tidak populer, berbeda, dan berani berdiri bagi yang benar, bukan karena ambisi pribadi, melainkan karena cinta. Kemuliaan sejati seorang pemimpin tampak dalam kesediaan untuk menderita demi kebaikan banyak orang.
“Ya, Bapa, ajarlah kami untuk jadi pemimpin yang rendah hati dan melayani, serta bersedia menanggung salib demi kebaikan banyak orang. Amin.”
Ziarah Batin

