| Red-Joss.com | Target kepemimpinan dalam Gereja yakni terbangunnya sebuah ‘engagement’ atau keterhubungan internal, antar umat dengan umat, antar perangkat yang ada dan eksternal dengan komunitas sekitar.
‘Engagement’ adalah suatu hubungan timbal balik yang pada akhirnya menimbulkan komitmen, kesetiaan, dan kepedulian.
Jika keterhubungan tidak terjadi, maka kepemimpinan itu tidak berkualitas alias ‘GARING’ (GAgah, tapi RINGkih) dan menghasilkan Gereja Muda yang ‘GARING’ (GAbuk dan RINGkih). Ibarat padi akan mudah roboh bahkan oleh tiupan angin sepoi.
Tulisan ini bukan tentang konsep kepemimpinan, tapi catatan pribadi tentang kualitas ‘engagement’ yang lahir selama lebih 30 tahun ‘praxis’ kepemimpinan para Imam di Gereja. Saya merasakan ada beda warna ‘engagement’ sebagai buah dari dua macam gaya kepemimpinan:
(1) ‘Down to Earth’ dibanding
(2) ‘Top Down’.
(1) Kepemimpinan ‘Down to Earth’ terlaksana di zaman Nir Hape, apalagi WhatsApp. Semua urusan harus temu darat. Contoh: Suatu malam Romo ke rumah kami yang berada di sebelah empang agar saya bersedia jadi kaling perdana.
Sebagai umat saya merasa senang, karena dicari, disapa, dibutuhkan, dan merasa dimanusiakan, lebih sebagai seorang pribadi, dibandingkan karena tugas.
Praxis Kepemimpinan ‘down to earth’ seperti ini terasa efektif dalam membangun ‘engagement’ antara Imam dan umat dalam pelayanan. Kata ‘engagement’ dalam ‘praxis’ seperti begini terasa yes, oke, siap, sendiko, sepakat.
(2) Kepemimpinan ‘Top Down’. Pada tahun 2016, ketika sedang disosialisasikan Ardas KAJ, semua anggota dewan (pleno) dipanggil untuk membangun ‘engagement’ bahwa program KAJ akan terlaksana. ‘Praxis’ seperti ini bukan ‘down to earth’ tetapi formal layaknya organisasi atau perusahaan. Karena era digital, warna komunikasi adalah teknologi. Relasi tergantikan teknologi dan makin miskin empati dan rasa hati.
Pendekatan ‘top down’ harus berlanjut ke ‘down to earth’, agar tidak GARING kelihatan (GAgah tapi RINGkih) dan melahirkan Generasi Muda GARING (GAbuk dan RINGkih) bak padi mudah roboh bahkan oleh tiupan angin sepoi-sepoi.
Salam sehat dan rahayu. Ingat nasihat Roma Irama, jangan suka begadang, jika kena angin malam akan mudah garing.
…
Jlitheng

