Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Di bawah naungan kepak sayap-Mu, aku berlindung, ya, Tuhan.”
(Dari Sebuah Keyakinan Teguh)
Belajar dari Kenyamanan Induk Ayam
Di suatu malam, di saat hujan turun, hati saya sangat gelisah, karena ayam piaraan kami bertengger bersama kedua ekor anaknya di atas bubungan sebuah kandang yang tidak beratap. Dengan berpayung, saya berusaha mendekati induk ayam itu. Tapi alangkah terperanjatnya saya, karena ternyata, induk ayam itu telah rapi mengepakkan kedua sayapnya untuk menaungi kedua anaknya, dan sambil kepalanya sendiri dibenamkan di bawah bulu-bulu dadanya.
Induk ayam itu tampak sangat nyaman, dan rintik-rintik air hujan itu ternyata bukanlah sebagai gangguan. Artinya secara naluriah (insting) alam telah mengajari induk ayam itu untuk bersikap demikian. ‘That is no problem!’
Menyaksikan pemandangan yang sungguh mengagumkan itu, hati dan pikiran saya terasa lega. Ternyata, kegelisahan saya tidak berdampak buruk pada keadaan induk ayam dan kedua ekor anaknya.
Dalam konteks yang satu ini, kita manusia perlu belajar lebih banyak tentang misteri dari kearifan alam. Inilah sebuah kegelisahan sebagai akibat dari ketiadaan pemahaman manusia tentang misteri alam semesta.
Alam adalah Sang Guru Kehidupan
Kini sadarilah, bahwa mengapa hewan dan tumbuhan ternyata terus dan tetap bertumbuh serta bertahan hidup dari tahun ke tahun, bahkan sudah berabad? Alam ternyata sangat selektif, bahwa tumbuhan dan hewan jenis yang mana yang sanggup hidup di kutub dan tumbuhan serta hewan yang mana yang bahkan sanggup bertahan di atas panas gurun. Semua proses keajaiban itu telah berlangsung lewat seleksi alam yang penuh misteri pula.
Bagaimana pula seekor jerapah dapat memiliki batang leher yang panjang dan elastis, sedangkan seekor rusa gunung dapat lincah berlari girang? Ada ular yang bersarang dalam lubang tanah dan ada buaya yang dapat hidup di dua alam: di dalam air dan di daratan. Dalam konteks ini berarti, bahwa alam juga guru yang paling sempurna di dalam kehidupan ini.
Tuhan Sumber Asal dan Hidup Sejati
Secara teologis, kita telah percaya dan mengimani teguh, bahwa segala sesuatu dapat hidup dan ada atas kehendak Tuhan. Seluruh realitas di atas bumi ini adalah sebagai ekspresi dari ciptaan-Nya.
Bahkan bukankah Tuhan sudah diibaratkan pula sebagai Sang Pelindung, Pengayom, Penopang, dan Penaung hidup manusia?
“Di bawah naungan sayap-sayap-Mu, aku berlindung ya, Tuhan,” demikian pengakuan iman umat manusia. Bahkan sudah diyakini pula, bahwa hanya di bawah naungan sayap Tuhan, maka manusia akan menemukan kenyamanan dan keamanan sejati.
Lewat keyakinan iman ini, manusia tetap setia, rela untuk bernaung di bawah kepak sayap Tuhan yang adalah “Perisai dan Gunung Batu” bagi manusia yang sungguh percaya kepada-Nya. Hanya lewat mata iman pula, manusia akan tetap percaya dan meyakini akan eksistensi serta kehadiran Tuhan di dalam hidup manusia.
Refleksi
Jika kita sungguh beriman dan teguh percaya kepada perlindungan-Nya, maka kita laksana anak-anak ayam yang nyaman dan aman berteduh di bawah naungan kepak sayap-Nya.
In te Confido!
Kediri, 23 September 2025

