Ketika kita mampu ‘menemukan diri’ ini, maka ada kenyamanan di hati. Kita tidak ragu untuk melangkah. Kita tidak takut dalam mengambil keputusan. Karena kita telah menyiapkan hati untuk menghadapi setiap konsekuensinya.
Ketika kita sudah ‘selesai dengan diri sendiri’, maka ada dorongan kuat untuk berbuat baik. Kita makin semangat untuk berbagi berkat. Kita juga selalu siap-sedia, jika diminta untuk melayani.
Ketika kita mampu ‘mengambil yang inti dari yang dicari selama ini’, maka tujuan hidup ini makin terarah jelas. Kita memahami tujuan hidup sejati, karena ‘urip kuwi urup’. Hidup bermakna dan berkenan bagi Tuhan.
Ketika kita mampu ‘menyusun kisah hidup’ ini, maka masa lalu itu ibarat pengalaman yang menerangi, dan berhikmat. Masa kini untuk disyukuri dan dinikmati, sedang masa depan itu untuk disongsong dengan sepenuh hati.
Itulah kenyamanan hati, dan tidak sulit untuk dinikmati. Kenyamanan hati adalah penentu dari jatidiri setiap insani. Jika itu dipunyai, hati ini jadi tentram dan damai.
Hidup berlimpah sukacita untuk disyukuri dan dimaknai.
Tuhan memberkati.
Rm. Petrus Santoso SCJ

