“Sejatinya orang yang mudah marah itu dikalahkan oleh egonya sendiri.” – Mas Redjo
…
| Red-Joss.com | Bagaimana dan apa pun sikonnya, tidak ada alasan untuk marah. Apalagi ganti menyakiti dan membalas dendam pada pribadi yang berbuat ulah itu.
“Jika ingin jadi pribadi yang sabar dan rendah hati, kau harus selalu berprasangka baik pada siapa saja agar kau tidak mudah tersulut emosi.”
Nasihat bijak Mbah SR itu selalu saya sugestikan pada diri sendiri agar saya mampu mengendalikan diri untuk sabar dan rendah hati.
Dalam berbincang dengan siapa saja, saya menjauhi debat pokrol ibarat anjing yang berebut tulang. Saya juga tidak ingin berkonflik. Tapi saya senang bertukar pikiran untuk menambah wawasan dan menjalin perseduluran.
Jika ada teman yang suka ngotot, nyinyir, atau emosian itu segera saya jauhi. Lebih baik mengalah, sabar, dan menjaga jarak. Karena orang yang emosian dan senang berkonflik itu bukti hidupnya tidak bahagia.
Bagi saya, nafsu amarah itu lebih berbahaya dan jahat dibandingkan musuh lainnya. Selain merusak jiwa raga, juga menghancurkan adab, kebaikan, dan perdamaian.
Nafsu amarah juga membuat saya kehilangan nurani dan tidak bisa berpikir jernih. Bahkan orang yang mudah marah itu miliki syahwat hewani yang melahirkan perbuatan, sikap, dan tindak kejahatan lainnya.
“Nafsu amarah itu dapat dijinakkan dengan sikap rendah hati, karena mengasihi,” tegas Mbah SR.
Amarah, jika ditanggapi itu bagai api yang diguyur minyak, langsung berkobar, dan menghanguskan.
Berbeda hasilnya, jika orang yang sedang marah itu hatinya disentuh lembut dan dikasihi. Ibaratnya, hati yang panas membara itu ditetesi air sejuk, nyes, dan segera mendingin.
Marah itu menyakiti, memisahkan, dan menghancurkan hubungan. Tapi hati yang mengasihi itu menyatukan dan membahagiakan jiwa.
“Hendaknya kamu saling mengasihi dan bahagia!” (Yohanes 13: 34)
…
Mas Redjo

