| Red-Joss.com | Ada orang yang takut dan trauma dimarahi, tapi ada orang yang hobi dan senang marah-marah. Juga ada orang yang menjadi sakit hati saat dimarahi dan ada yang merasa puas saat bisa melampiaskan kemarahannya.
Amarah, kemarahan yang tidak terkontrol dan terkendali itu akan merusak dan menyapu apa saja yang ada di sekitarnya. Bagaikan badai yang tidak mengenal musim.
Ada orang yang melampiaskan kemarahannya dengan kekerasan. Bahkan dengan kekuatan fisik.
Ada orang yang melampiaskan kemarahannya dengan merusak barang-barang, melempar, memecah, membanting, menendang, dan memukul. Sehingga semuanya menjadi hancur berantakan!
Ada orang yang melampiaskan kemarahannya dengan kata-kata yang kasar, merendahkan orang lain, dan penuh kebencian. Tapi ada juga orang yang dengan mengurung diri di kamar.
Yang jelas setiap pribadi itu mempunyai strategi untuk melampiaskan kemarahannya.
Pertanyaannya, apa yang kita peroleh setelah marah? Kepuasan? Kehebatan? Kesombongan? Iya, itu untuk sementara. Tapi sesungguhnya yang kita peroleh adalah rasa malu!
“Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa: janganlah matahari terbenam, sebelum padam amarahmu dan janganlah beri kesempatan kepada Iblis” (Efesus 4:26-27).
Pesan intinya adalah agar kita bisa mengendalikan amarah. Apakah kita bisa? Pasti bisa!
Coba strategi ini untuk mengolah kemarahan:”Feel, Think, Talk, and Act.” Dengan cara itu kemarahan bisa diurai dulu. Karena jika tidak akan mengarah pada tindakan-tindakan yang merusak-destruktif. Sehingga bisa mengarah pada tindakan-tindakan ‘Sarkasme’ atau ‘hostility’. Itu, bahaya!
Jadi, kendalikan api amarah dan kemarahanmu. Saatnya datang kepada Tuhan dengan kasih dan datang kepada sesama dengan damai. Karena buah kasih adalah damai.
Bertobatlah, jika masih mempunyai kebiasaan marah-marah!
…
Rm. Petrus Santoso SCJ

