“Makan bersama keluarga dengan nasi kendil, dan minumnya dari air kendi. Dijamin joss gandos!” – Mas Redjo
…
| Red-Joss.com | Seiring perjalanan waktu, saya baru memahami filosopi makan bersama dari nasi kendil dan minum air kendi. Maksud Bapak agar kami, anggota keluarga bersatu. Untuk saling mengingatkan, menguatkan, dan meneguhkan. Sedang air kendi itu dimaksudkan agar kami belajar mengendalikan diri, dalam keadaan apa pun situasi dan kondisinya.
Terpampang jelas dalam ingatan saya, Bapak mengambil nasi dari kendil besi itu ke piring, lalu diberi sayur dan lauk. Sedang kami lebih senang sayur itu dimasukkan ke kendil untuk dimakan bersama. Sehingga tidak meninggalkan intip (kerak nasi), karena jadi lembek dan enak.
Sedang air kendi itu tidak sekadar menyegarkan tubuh, karena yang utama adalah kendali diri agar kita jadi pribadi yang rendah hati dan selalu bersyukur. Rendah hati untuk mengalahkan godaan si jahat, dan dosa.
Bapak juga selalu menyediakan air kendi dan beberapa cangkir kecil di bawah pohon dekat pintu pagar untuk para muzafir yang kehausan. “Seteguk air untuk kehidupan. Kecil, tapi berarti,” kata Bapak.
Secara keseluruhan, maksud Bapak adalah membuka hati kita. Godaan itu bisa datang dari mana saja dan dalam bentuk apa pun untuk menghancurkan keluarga yang adalah Gereja mini. Sedang jemaat-Nya dibangun di atas batu karang Petrus (Matius 16: 18), dan maut tidak mampu mengalahkannya.
Bapak memberi contoh pada orang yang berkuasa (pejabat), tapi selalu merasa kurang, bahkan jika bisa dunia ini akan ‘diuntalnya’ (ditelan).
Godaan itu datang menyerang tidak pada orang yang bersangkutan, tapi, juga bisa pada istri dan anak-anaknya. Baik berupa tahta, harta, wanita, dan lainnya. Karena itu mutlak penting, jika antar anggota keluarga itu saling mengingatkan, menguatkan, meneguhkan, dan mendoakan. Dengan saling mengasihi antar anggota keluarga, maka godaan itu dapat dikalahkan.
Bapak lalu mengisahkan kisah tragis Yohanes Pembaptis yang dibunuh oleh Raja Herodes, karena menegurnya mengambil Herodias, istri Filipus saudaranya (Matius 14: 3-10).
Inti cerita Bapak adalah, agar kami senantiasa berhati-hati dalam berbicara dan berperilaku, karena ‘ungkapan kata itu doa’. Sebagai orang beriman, kita dituntut rendah hati untuk meneladani Tuhan Yesus.
Berpikir dulu, bicara kemudian. Dengan rendah hati, kita mengalahkan ego sendiri.
…
Mas Redjo

