Hujan itu seolah jadi liturgi alam yang agung. Ketika Sang Pencipta disebut sebagai penggeraknya. Hujan bukan lagi sekadar fenomena cuaca, melainkan instruksi langit agar manusia menanggalkan kesombongan.
Di titik ini, takbir dan lonceng tidak lagi saling bersahutan dalam jarak, tapi melebur dalam satu irama syukur di bawah basuhan yang sama. Kemenangan sejati itu memang hanya bisa diraih, ketika ego telah luruh, menyisakan jiwa yang murni di hadapan-Nya.
“Kita menang, karena Dia.”
Berkah Dalem.
Jlitheng

