“Best person is Dady and Mom.” -Rio, Scj
Ada satu makanan yang tidak perlu kita bayar alias gratis, tapi amat mahal. Namun kita anggap biasa dan sering diabaikan. Makanan itu adalah makanan yang dimasak oleh Ayah dan Ibu. Kita pikir waktu masih panjang, masih ada nanti. Kita pikir dapur akan selalu mengepul menunggu kita pulang. Kita pikir suara yang hangat dan sabar itu akan selalu ada. Padahal semakin lama kita pergi jauh, semakin mengerti satu hal.
Di dunia ini tidak ada orang yang langsung memasak, ketika kita bilang ‘lapar’. Tidak ada sosok yang tetap terjaga saat kita pulang larut malam. Tidak ada sosok yang… setelah kita membentak beberapa saat kemudian tetap memaafkan dan masih mengkhawatirkan kita.
Ibu bukanlah dewa. Dia juga lelah mengerjakan semua urusan rumah tangga. Dia bisa menangis diam-diam dan merasakan sakit. Ayah juga tidak terbuat dari besi. Di balik silap diamnya itu ada banyak kekhawatiran yang dipendam. Dia hanya tidak pandai mengatakannya.
Mereka itu adalah sosok satu-satunya di dunia ini yang pernah berbagi detak jantung dengan kita. Mereka yang selalu berharap hidup kita berjalan baik. Tapi kita sering lupa, bahwa tangan yang berkali-kali mencuci pakaian kita, sekarang mulai berkerut. Kita lupa, bahwa wajah yang berkata, “Nak kamu hebat” itu diam-diam menua. Sampai suatu hari kita pulang ke rumah. Membuka pintu dan makanan di meja sudah dingin, tapi orang yang dulu selalu menunggu kita tidak lagi ke luar menyambut dengan lembut.
Saat itu kita akan mengingat semuanya. Kata-kata kasar yang pernah kita ucapkan. Hal-hal bodoh yang pernah kita lakukan dan juga semua momen di mana kita sebenarnya bisa memeluk mereka, tapi kita tidak melakukannya.
Ingat hal yang paling penting dalam hidup adalah setiap peristiwa itu hanya datang satu kali, dan tidak akan terulang. Selama masih bisa pulang, pulanglah. Selama masih bisa bersikap lembut, bersikaplah lembut. Jika masih bisa memeluk, peluklah. Jangan disimpan dan jangan menunggu, akhirnya semuanya itu terlambat. Suatu hari kita akan mengerti, bahwa yang paling berharga di dunia ini bukanlah makanan di meja, melainkan orang yang memasak makanan itu. Mereka mencintai kita jauh lebih dalam dari yang kita bayangkan, dan waktunya bersama kita jauh lebih singkat dari yang kita bayangkan. Orangtua yang sangat menyayangi kita.
Deo gratias.
Rm RP Rio, Scj

