“Dari tiada ke ada, lalu kembali ke tiada.”
…
| Red-Joss.com | Fakta itu nyata. Tidak bisa diingkari dan dipungkiri, karena sejatinya hidup kita bakal kembali kepada Sang Pencipta.
Coba buka hati untuk dipahami. Sesungguhnya, kita ini ada sebagai ungkapan kasih Allah agar kita saling mengasihi dan bahagia. Karena Allah adalah kasih.
Coba bertanya pada diri sendiri. Apakah hidup kita sungguh untuk memberi dan membahagiakan sesama?
Jika belum, tak ada kata terlambat dan tidak harus berkecil hati untuk memulai, meski dari nol lagi.
Jika hidup ini diibaratkan bepergian ke suatu kota tujuan. Kita mau naik apa dan bekal apa saja yang harus dibawa selama perjalanan agar kita tidak ‘keleleran’ dan susah sendiri.
Persiapan matang itu hal utama dan mutlak penting agar perjalanan lancar serta tiada gangguan yang berarti.
Jika menggunakan kendaraan, baik umum atau pribadi, apakah BBM harus diisi dulu agar cukup di jalan, hingga kita tiba di tujuan dengan selamat. Pengalaman sopir yang bertanggung jawab mengantar kita selamat hingga di tujuan. Tapi, jika sopir itu minim pengalaman, tidak mengenal medan jalan, dan sembrono…?
Berbeda, jika peziarahan hidup ini diarahkan untuk kembali kepada Allah.
Yesus, Sang Guru Agung memberi kepastian itu pada kita. “Akulah Jalan dan Kebenaran dan Hidup…” (Yoh 14: 6). IA memberi penegasan pada kita untuk percaya dan mengimani-Nya agar kita selamat dan bahagia.
Yesus mengajak kita menjalani hidup ini dengan cinta kasih untuk melihat dunia agar kita peka, peduli, berempati, dan berbagi kasih pada sesama.
Dengan menerima Ekaristi Kudus, jiwa kita disegarkan dan dikuatkan agar kita tidak lapar dan haus lagi.
Dengan menjadi pewarta dan pelaksana firman-Nya, hati kita diteguhkan dan bahagia.
Dengan bermurah hati, kita diajak untuk mengasihi sesama. Bahkan kepada musuh atau mereka yang memusuhi, kita harus mengasihi dan mendoakannya.
Sesungguhnya, hidup yang ikhlas itu, ketika kita melepas beban pikiran dengan mensyukuri semua peristiwa hidup ini sebagai kehendak Allah.
Berkah Dalem.
…
Mas Redjo

