Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Banyak peristiwa belakangan ini mengajak kita berpikir lebih dalam. Betapa kita mudah kehilangan kemampuan untuk hidup dalam kebersamaan.”
(Ignatius Haryanto)
…
| Red-Joss.com | Lewat spirit tulisan bernuansa refleksi ini saatnya kita kembali masuki kedalaman sumur nurani tulus kita.
Ternyata Emosi Kita Mudah Terbakar
“Beberapa pekan yang lalu, seorang pria memarkir mobilnya di jalan sempit, karena ia hendak membeli jajanan.
Dampaknya, terjadi kemacetan parah. Saat diklakson panjang dari deretan mobil di belakangnya, pria itu malah meradang amarahnya dan bahkan sempat meludahi orang-orang di belakangnya.
Pemilik mobil di belakangnya sempat merekam nomor mobil dan sang pemiliknya.
Video singkat ini memantik banyak reaksi dari netizen Indonesia.
Tak lama berselang, lewat video maafnya, dengan wajah kuyu sesal, pria itu meminta maaf kepada para netizen.
Segera terkuak khabar, bahwa dalam waktu hanya 24 jam, pria itu pun dibebastugaskan dari tempat bekerjanya.” (Ignatius Haryanto, “Kembali ke Dasar” Kompas, Senin, 6/5/2024).
“Tulisan ini hendak menukik lebih ke dalam: betapa kita sudah jauh kehilangan kemampuan, keterampilan, untuk bisa hidup dalam kebersamaan dengan orang lain,” demikian Ignasius Haryanto.
Siapakah Sejatinya Kita?
Kita adalah warga dari sebuah bangsa beradab, yang para warganya ternyata paling getol menyebut diri orang beragama?
Jika kita cermat memperhatikan, sesungguhnya betapa masyarakat pengendara kita tidak peduli dalam berlalu lintas. Dampaknya hingga terjadi kemacetan parah yang membuat sesama pengendara lain meledak emosinya.
Mari Kembali ke Sumur Nurani Kita
Mengapa sampai sedemikian parah moral etika dalam hidup bersama di antara kita?
Menurut analisis Ignatius Haryanto, ada pun akar dari permasalahan ini, karena etika dan moral kita sudah banyak ditinggalkan dari kehidupan kita sehari-hari. Ada adagium, “adanya peraturan itu untuk dilanggar, tidak untuk dipatuhi.”
Namun, realitas di lapangan berbicara lain. Karena ternyata ada ruang abu-abu di jalan raya dan masyarakat kita. Seolah-olah ada hak privilese bagi segelintir orang. Apakah itu para pejabat atau si pemilik modal yang dengan sesukanya bisa menyumbat moncong para petugas di jalan.
Menyaksikan dan mengalami sendiri kondisi morat-marit bangsa ini, maka saya teringat yang dicemaskan oleh para pendidik di Australia, justru ketika anak didik mereka belum memiliki budaya mengantre. Bukan, karena siswa belum menguasai ilmu matematika atau bahasa. Tidak!
Sesungguhnya aksi kembali ke dasar sumur nurani adalah sebuah ajakan agar kita menyadari akan inti diri kita sebagai manusia.
Tujuannya agar kita sadar dan mau menumbuhkan moral serta etika yang ada di dalam nurani kembali.
…
Kediri, 14 Mei 2024

