Fr. M. Christoforus, BHK
“Sang pelukis sejati akan tulus mengekspresikan keluhuran jiwanya,
dan dia pun tidak sekadar untuk menerima bayaran.”
(Kisah Keluhuran Jiwa Pelukis Paulo Veronese)
| Red-Joss.com | Pelukis adalah seniman yang mengekspresikan keluhuran jiwanya lewat karya melukis. Mereka memiliki talenta, berupa kharisma sebagai pelukis besar.
Anda dan saya pun tentu ingat akan keluhuran nama para pelukis dunia maupun dari Indonesia.
Mereka itu antara lain: Michelangelo (Sistine Chapel), Pablo Picasso, Leonardo da Vinci (Monalisa), Vincent Willem Van Gogh.
Dari Indonesia antara lain: Affandi Kusuma, Agus Djaya, Raden Saleh, serta Basoeki Abdullah.
“Keluhuran Jiwa Sang Pelukis.”
Tulisan ini saya angkat dengan latar belakang sebuah peristiwa, yang terjadi pada abad ke-16. Saat sang pelukis, Paulo Veronese diadili oleh Dewan Pengadilan Agama atas tudahan penghinaan Agama.
Apa dasar dari permasalahan itu?
Paulo Veronese, diminta untuk melukis โKisah Perjamuan Akhirโ (the last supper), adegan perpisahan Yesus dengan para murid-Nya.
Setelah tuntas, ternyata hasil lukisan itu, dianggap sesat (bidat), dan sang pelukis itu harus dihukum mati. Karena dianggap sebagai bentuk penghinaan terhadap agama.
Mengapa dianggap sebagai sebentuk pelecehan agama? Karena di dalam lukisan itu, selain tampak Yesus serta para murid-Nya, tampak juga beberapa tokoh lain, seperti: dua pria pengawal berpakaian bangsa Jerman, seorang pria kerdil, orang barbar, serta orang yang dianggap tak layak mengitari meja perjamuan itu.
Maka, pada tanggal 18 Juli 1573, pelukis itu diadili dalam sidang Inkuisisi oleh Dewan Pengadilan Agama.
Keputusannya, bahwa lukisan itu dianggap sebagai pelecehan terhadap kesucian agama. Kepada pelukis itu diminta untuk memperbaiki lukisannya dalam tempo tiga bulan.
Sang Pelukis menerima keputusan itu. Dalam tempo tiga bulan, maka selesailah perbaikan atas lukisan fenomenal itu.
Apa yang sesungguhnya terjadi? Sang seniman itu, justru sama sekali tidak memperbaiki lukisannya. Ia hanya mengubah judulnya menjadi, “Pesta di Rumah Levi.”
Sungguh mulia dan kokoh jati diri seorang manusia sejati. Dia tidak sudi kehilangan roh keluhuran budinya.
Dia tidak rela mengubah lukisannya, hanya karena dianggap bidat alias sesat.
Sang pelukis itu justru sangat memahami makna sejati yang dikehendaki oleh Yesus. Atas dasar kelenturan budinya, maka diubahnya judul lukisan itu.
Ada pun makna agung dari balik peristiwa historis ini, bahwa hendaklah kita, tidak beragama secara eksklusif, tapi justru rela untuk merangkul kemanusiaan semesta.
Itulah esensi dan misi agung dari kedatangan Yesus ke bumi ini.
“Aku datang untuk mencari dan menyelamatkan domba-domba yang tersesat.โ
Akulah sahabat kaum pendosa!
…
Kediri,ย 15ย Maretย 2024

