Memang tidak mudah membangun keluarga ideal. Membangun sebuah ‘rumah’ itu memakai tangan, tapi sebuah ‘keluarga’ itu dibangun dengan hati dan empati yang tidak henti-henti.
Setiap orang bisa saja terpeleset dari mimpi membangun keluarga ideal ke keluarga etalase, di mana energi habis untuk memoles tampilan luar agar terlihat sempurna di mata publik, namun kehilangan sesuatu di ruang privat, yang hanya bisa diisi dengan empati, yang adalah detak jantung keluarga; yang tanpanya, keluarga hanyalah sekumpulan orang asing yang berbagi atap.
Monggo ‘diraos’ sendiri.
Salam sehat.
…
Jlitheng

