Keluarga yang bahagia itu tidak perlu seindah keluarga Cemara, tapi yang memiliki kesanggupan untuk menerima dengan lapang dada cacat atau kerapuhan salah satu anggotanya dan menopangnya dengan kasih sayang.
Pagi ini, beberapa baris di depan kami duduk, hadir satu keluarga yang mendorong kursi roda, pria sepuh. Ada yang menolong duduk di bangku, ada yang merapikan kursi roda, ada yang melap tangannya, agar pria sepuh itu merasa diri utuh untuk menerima berkat Ekaristi dalam kondisi fisiknya yang tidak lagi utuh. “What a happy family.”
Kebahagiaan keluarga itu memang bukan tentang kesempurnaan tanpa masalah, melainkan tentang kemampuan untuk bersatu menghadapi tantangan, saling mendukung, dan menemukan solusi bersama.
Keluarga yang bahagia itu memiliki komunikasi terbuka (walau tidak banyak kata), tapi yang saling memahami, mendukung, dan memiliki komitmen untuk menyelesaikan masalah dengan rasa hormat, demi memperkuat ikatan keluarga itu sendiri.
Salam sehat.
Jlitheng

