“Orang yang paling menderita di dunia itu mereka yang kehilangan kasih sayang dari keluarganya sendiri.” – Mas Redjo
…
| Red-Joss.com | Wanita baya itu termangu, ketika membaca isi surat dari putrinya yang ditaruh atas meja. Tangannya gemetar.
“Maaf, kami tidak bisa menunggu Ibu, takut kemalaman. Jika Ibu mau menyusul…”
Wanita baya itu tidak melanjutkan membaca surat itu, karena ia tidak sanggup menahan hatinya yang berguncang disergap penyesalan.
Ia terlambat tiba di rumah, sehingga ditinggal pergi oleh suami dan anak-anaknya! Padahal hari ini ulang tahun putri bungsunya. Duh!
Ia memejamkan mata dihempaskan oleh kesadarannya. Ia merasa sendiri, kehilangan arti, dan nyeri.
Padahal ia pulang lebih awal. Ia minta pada sopir untuk jalan lebih cepat. Ngebut. Tapi tidak disangka, jalanan macet parah, karena ada perbaikan jembatan Sasak Puri Beta.
Sekali lagi wanita baya itu menarik nafas panjang. Dadanya dirajam duri penyesalan.
“Ibu, mau aktif itu boleh. Tapi jangan semua kegiatan sosial diikuti. Ibu punya keluarga. Anak-anak butuh Ibu…,” suaminya mengingatkan, dan sabar.
Semula ia aktif di luar, karena anak-anak sudah besar, dan ia sendirian. Ketimbang ngelangut, ia lalu aktif. Ia menemukan kegembiraan bersama banyak teman. Kumpul, healing, dan bersosmed itu asyik, hingga lupa waktu.
Pagi tadi putri bungsunya juga telah mengingatkan untuk acara makan malam keluarga. Karena ia terlanjur janji dengan acara pengumpulan dana, sehingga agendanya bentrok, dan pulang terlambat.
“Sebenarnya Ibu makin aktif di luar itu mencari apa sih…,” pernah putri bungsunya mengeluhkan keaktivan ia di luar. Ya, mencari apa?
Ia kembali dilemparkan ke suatu realita yang membuat ia tersadar dari mimpi buruk. Demi aktivitas di luaran, ia jadi egois, mengorbankan kepentingan keluarga. Inikah yang namanya mencari pengakuan diri ben-diarani?
Dihelanya nafas panjang. Dilihatnya jam di dinding menunjukkan pukul 20.30. Cairan bening meleleh dari sudut matanya, karena dihimpit oleh penyesalan yang dalam.
Ia lalu ke luar, menghidupkan mobil. “Tuhan, ampuni aku,” gumamnya lirih. Ditinggal pergi keluarga di hari bahagia ulang tahun putrinya, karena kealpaannya yang condong mencari pengakuan semu. Tuhan seperti mengingatkannya, keluarga itu lebih utama dan penting, jika dibandingkan keegoisannya.
Disekanya air matanya. Ia tidak mau kehilangan kasih keluarganya. Ia harus minta maaf pada putrinya, suami, dan juga anaknya yang lain. Janganlah sakiti hati anakmu, supaya jangan tawar hatinya (Kolose 3: 21)
“Tuhan, terima kasih Engkau telah mengingatkan hambamu…”
Sepanjang jalan menuju resto WH, hati wanita itu tak henti mengucap syukur kepada Tuhan …
…
Mas Redjo

