| Red-Joss.com | Beruntung sekali kita ini ya, hidup dengan tuntunan agama yang menekanlan sikap asih, kelembutan dan kesantunan. Betapa tidak!
Jika kita tengok di jagad medsos. Seolah tak ada hentinya dan ‘entek amek kurang golek’ dalam istilah Jawa, tiap hari seperti tak lelah dengan serang menyerang kata nyinyir dan fitnah, menambah derita dan sengsara dampak pandemi yang semakin ngeri, dengan melakukan permusuhan internal antar anak bangsa. Saling cela dan memfitnah jadi kontes tanpa akhir.
Melaknat dan membuka aib sesama laksana rantai balas dendam tanpa akhir, tanpa rasa risi atau sungkan dengan slogan pembalasan itu harus lebih kejam.
Kita ini sangat beruntung memiliki Guru Agung yang sepanjang hidup-Nya adalah wujud nyata ajaran-Nya: “Jika orang lain menampar pipi kirimu, kasihlah yang kanan,” artinya… no revenge, api tak akan mati dengan api.
Guru Agung kita tak henti mengajak murid-murid-Nya menolak kekerasan dan menggantinya dengan kelembutan dan kesantunan. Dua kata yang memiliki kekuatan sangat dahsyat. Kita memilih ‘novena’ sebagai ganti demonstrasi menuntut hak. Memilih silaturahmi sebagai ganti tuntutan.
Kelembutan hati serta kesantunan kata dan perbuatan seperti sinar laser yang menembus kulit. Kelembutan dan kesantunan dapat meluruhkan hati yang beku tanpa menyakiti dan mencerahkan pikiran yang bebal tanpa menghakimi.
Kelembutan hati dan kesantunan, keduanya, juga memperbaiki sikap dan perbuatan tanpa memaksakan, bagaikan sinar laser meluruhkan batu ginjal atau empedu tanpa merusak kulit sehat yang dilaluinya. Kekuatan keduanya sanggup menembus relung jiwa yang paling dalam, sehingga dapat mengubah sesuatu yang awalnya mustahil menjadi mungkin.
“Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat.” (Dan kamu tidak membalas) Kamulah yang empunya Kerajaan Surga. M5,1-12.
Salam sehat dan tak henti berbagi cahaya.
…
Jlitheng
…
Foto ilustrasi: Istimewa

