“Kekuatan rasa bersyukur adalah modal utama agar hidup kita makin baik dan menghasilkan buah-buah kasih Allah.” -Mas Redjo
Kekuatan rasa bersyukur itu tidak sekadar menerima kenyataan, seberat dan sepahit apa pun hidup ini, tapi kita diajak untuk jadi pribadi yang sabar dan tabah agar melihat hikmat Allah serta mewujudkannya: hidup kita harus makin baik.
Bersyukur untuk berserah pasrah pada kehendak Allah tidak identik kita madah berdiam diri tanpa aksi. Tapi sejatinya kita diajak bereaksi dan berkreasi untuk melakukan hal-hal yang baik serta positif.
“Hidup ini harus makin baik, dan terus bertambah baik, karena kita diciptakan Allah secitra dengan-Nya” (Kej 1: 26-27).
Saya ingat dengan nasihat bijak Guru Agung, bahwa kesuksesan sejati itu tidak diukur dari hasil pencapaian hidup dan materi yang dikumpulkan. Tapi dari seberapa berguna dan bermakna hidup kita dalam memberi manfaat kepada sesama.
Saya juga ingat dengan teladan St Paulus, yang sebelumnya bernama Saulus, dan dikenal sebagai seorang penganiaya pengikut Yesus. Dalam perjalanan menuju Damsik, Saulus mengalami perjumpaan langsung dengan Yesus, lalu bertobat untuk menyebarkan ajaran Yesus.
Sejatinya jalan hidup pertobatan itu menempa kita menuju ke arah yang baik dan benar, karena kita secitra dengan Allah.
Jika hidup kita biasa-biasa saja dan tanpa memberi manfaat yang berarti pada sesama, saatnya kita menggugat diri sendiri dan terus menerus berefleksi untuk hidup secara baik, benar, dan bermakna.
Sesungguhnya, hidup yang tidak direfleksikan itu tidak layak dihidupi.
“Jangan sia-siakan hidupmu!”
Mas Redjo

