Red-Joss.com | “Izinkan aku kembali padamu. Aku sungguh menyesali perbuatanku, dan aku tidak akan mengulanginya lagi.”
Chat itu untuk yang kesekian kali datang dari orang yang sama, tapi tidak pernah kutanggapi. Bahkan saya tidak mau membalasnya, karena saya ingin mengubur kenangan itu dan melupakannya.
Bagaimana tidak! Karena untuk yang kesekian kali pula kesempatan yang saya berikan pada R itu disia-siakan. Ternyata perilaku R tidak berubah. Bahkan, menurut saya, R makin liar dan lupa diri, hingga menyakiti hati saya dan anak-anak.
Jujur, semula saya memaafkan R juga demi anak-anak agar mereka tidak terus bertanya, ke mana dan kapan Ayah pulang, Ayah tidak pernah menemani main lagi, dan seterusnya.
Sesungguhnya saya berkumpul dan serumah dengan R, tapi hidup kami masing-masing. Kami mempunyai dunia yang berbeda. Hal itu tidak berarti saya membenci R atau tidak memaafkannya, tapi saya ingin melihat kesungguhan niat R agar sadar diri, berubah, dan jadi baik.
Ternyata, janji R untuk berubah dan insyaf itu hanya sebatas di mulut.
Kesempatan yang saya berikan itu juga dilanggar dan diinjaknya.
Saya menyesali kelemahan hati ini yang selalu memaafkan R, ketika R menangis mengiba dan mencium kaki saya.
Saya mengampuni R, ketika anak-anak menangis takut ditinggal oleh Ayahnya pergi.
Sejak R melakukan KDRT, menilep uang perusahaan yang harus saya tanggung, hingga seorang sahabat memergoki kemesraan R dengan wanita lain…
Kejujuran, keterus-terangan, dan penyesalan R tidak membuat hati saya luluh. Sebaliknya saya jadi muak dan merasa makin dihina dengan perbuatan jahat R yang terus diulanginya itu.
Saya berjanji untuk tidak menerima dan mengisi hidup ini bersamanya lagi.
Saya juga menyesal, karena selama ini saya mengabaikan saran dan nasihat orangtua. Bahwa karakter R itu sulit diperbaiki. R kapok lombok, dan hanya di mulut.
Nasi telah jadi bubur. Tapi hal itu tidak harus disesali, dikutuki, dan ditangisi. Yang utama dan penting adalah saya harus bangkit dan belajar mengambil hikmah dari peristiwa itu.
Saya juga harus menyelamatkan mental anak agar tidak terguncang dan hancur akibat perilaku Ayahnya.
“Ya, Allah, jika saya harus jadi orangtua tunggal, kuatkan jiwaku dan dampingi aku untuk tetap setia melangkah di jalan-Mu,” bisik saya lirih, lirih sekali.
Selalu berharap akan penyertaan Allah dan demi kasihku pada anak-anak, saya harus kuat, tabah, dan tegar. Karena… hari esok selalu lebih baik.
…
Mas Redjo

