“Menerima itu berkah, memberi itu anugerah.”
– Rio.scj
…
| Red-Joss.com | Manusia itu makhluk sosial. Ciri inilah yang melahirkan budaya dan keutamaan berbagi. Sayangnya, karena ego yang tinggi menjadikan berbagi itu seperti barang antik. Konsumerisme yang meracuni menjadikan manusia anti berbagi. Keserakahan menguasai membuat kita pelit untuk berbagi.
‘Give and give’. Menerima itu berkah, memberi itu anugrah. Saat kita berbagi, kita pun akan diberi. Ubah mindset dari ‘take and give’, menjadi ‘give and give’. Inilah rumus ikhlas berbagi. Jika kita memberi satu mengharapkan dua, maka hasilnya setengah. Jika kita memberi satu, mengharapkan satu, hasilnya satu. Tapi jika kita memberi tanpa mengarapkan, maka hasilnya tidak terhingga.
Menunggu kaya raya baru berbagi, maka memberi hanyalah mimpi yang tidak jadi nyata. Berbagilah selagi hidup, mampu, bisa, dan tidak menunda, membuat hidup kita bahagia dan penuh warna. Berbagi dengan ikhlas dan cinta, membawa kita layak masuk surga.
Memberi itu bukan melulu materi, karena memberi itu soal hati yang dalam bahasa latin ‘CORE’. Ingatlah empat huruf ini agar kita ikhlas berbagi.
Pertama, ‘compassion’, belarasa adalah keutamaan di mana hati peka untuk merasakan penderitaan sesama.
Kedua, ‘option’ for the poor. Keutamaan ini mengajari kita untuk menpunya hati bagi sesama yang lapar, haus, sakit, miskin dan terlantar. ‘Option’ bukan hanya berpikir dan omong, tapi tindakan nyata amal kasih.
Ketiga, ‘respecful’, keutamaan ini bukan hanya kasihan menyaksikan penderitaan, kekurangan, dan kemiskinan, melainkan punya hati untuk menjadikan mereka subyek bukan objek. Mengangkat kemanusiaan mereka bukan suatu proyek.
Keempat, ‘empathy’. Keutamaan ini mengajari kita menpunya hati yang luas nan ikhlas untuk peduli dan berbagi.
Ingatlah sabda Tuhan, “Apa yang kau lakukan untuk saudara-Ku yang paling hina ini, itu kau lakukan untuk Aku.”
Ingatlah, menerima itu berkah, memberi itu anugerah.
Deo gratias.
…
Edo/ Rio, Scj
…
Foto Ilustrasi: Istimewa

