Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
Konon, seorang putra Raja hendak mempersunting seorang calon permaisuri.
Diberitakan kepada para gadis jelita, bahwa barang siapa ingin dipersunting oleh putra Raja dipersilakan untuk mengambil ‘benih bunga’ dan merawatnya hingga menghasilkan jenis bunga terindah.
Maka, beramai-ramailah para gadis jelita menerima dan mulai jerawat bibit bunga itu.
Tatkala saat sayembara tiba, tampak puluhan dan bahkan ratusan bunga indah di dalam pot yang tidak kalah cantiknya dipajangkan.
Tampak betapa bangga, bahagia, dan terharu hati Raja, karena menyaksikan ada sebuah pot tanpa bunga.
Maka, putra Raja segera memanggil gadis yang potnya tanpa bunga itu.
“Putri jelita, mengapa potmu tanpa bunga?”
“Maafkan saya tuanku, saya telah mencoba, menanam, menyirami, dan bahkan berdoa agar bertumbuh bunga indah, namun bibit bunga ini tetap tidak bertumbuh.”
“Wahai sang jelita, kamu bukannya gagal, tapi justru, kamulah pribadi yang sungguh kuidamkan. Lewat sayembara ini, aku mencari seorang calon permaisuri yang berhati jujur.”
“Mengapa, Tuanku berkata demikian?”
“Karena semua benih yang kuberikan dan disayembarakan itu telah kupanggang. Mustahil akan menumbuhkan bunga. Kini, aku sungguh yakin, bunga-bunga yang indah bermekaran ini, tentu bukanlah berasal benih yang aku berikan.”
Dengan penuh percaya diri putra Raja itu bertutur:
“Yang aku cari adalah calon permaisuri yang berhati jujur dan bukan bunga yang indah.”
Betapa luhurnya, sekeping hati yang tulus dan jujur, Andakah pemilik hati itu?
Wolotopo, 30 Mei 2025

