Oleh : Rm. Petrus Santoso SCJ
[ Red-Joss.com ] Sejak kecil kita dididik dengan nilai ini: Kejujuran.
Intinya …
- Antara kata dan tindakan itu sama.
- Antara yang dipikirkan dan yang diungkapkan itu sama.
- Antara yang dilihat dan yang diekspresikan itu sama.
- Antara yang terucap dan yang tersembunyi itu sama.
Kejujuran itu membuat pribadi ini tidak ada kepalsuan yang tertinggal dan tersisa. Kita sebagaimana kita adanya. Kita tidak pernah menjadi berbeda dengan jatidiri kita. Karena kita adalah kita, dan apa adanya. Titik.
Ketika kita tidak jujur dengan diri sendiri. Muncul pertanyaan, untuk apa?
- Untuk bergaya?
- Untuk menyembunyikan sesuatu?
- Untuk melupakannya?
- Untuk ‘happy-happy’ saja?
- Untuk menghibur diri?
- Atau untuk meninggalkan semuanya?
Tidak Bisa!
Akhirnya, hanya kita yang akan nelangsa, sengsara, dan menderita. Jiwa menjadi merana penuh dengan kecewa. Hati menjadi gundah gulana tanpa ada bahagia. Jiwa akan menjerit memanggil hidup damai. Roh akan terus gelisah merindukan Sang Pencipta.
Di sini bisa kita melihat …
- Kejujuran adalah cermin kehidupan kita.
- Kejujuran adalah pintu masuk jalan lurus kita.
- Kejujuran adalah tetes air kesegaran kita.
- Kejujuran adalah bahagia pertama yang bisa menghantar kita pada bahagia selanjutnya.
Sekarang, kita sepakat, kejujuran yang pernah diajarkan oleh orangtua kita, harus kita ajarkan juga kepada generasi selanjutnya. Kita harus yakin betul, bahwa kita paham akan arti kejujuran itu dan kita sudah hidup dengan jujur pula. Jika tidak, kejujuran hanya tinggal menjadi warisan kata-kata, karena tidak ada lagi yang berani hidup jujur.
Rm. Petrus Santoso SCJ

