Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Fitnah lebih kejam daripada pembunuhan.”
(Didaktika Kehidupan)
…
| Red-Joss.com | Berikut sepenggal doa di saat Anda menghadapi sebuah fitnahan yang dilontarkan kepadamu!
“Ya Bapa, begitu banyak orang yang selalu mencemoohku, bahkan memfitnah aku karena hidupku. Aku tidak tahu Tuhan, mengapa mereka bertindak demikian. Maka, ya, Tuhan, kuatkanlah hatiku agar aku bisa menghadapi semua fitnahan orang yang mengejek aku. Kiranya aku dapat menyadarkan mereka lewat sikap dan tindakanku. Amin.
(25 Doa Terpopuler dari Ayat-ayat Emas Sepanjang Masa).
Memfitnah, fitnahan, ya dia ibarat duri di dalam daging atau pun menggunting di dalam lipatan. Dia, bahkan juga laksana api di dalam sekam!
Apa itu fitnah? Perkataan atau tuturan tanpa dasar kebenaran alias berbohong, yang sengaja dihembuskan dengan tujuan menjelekkan orang lain.
Saya juga teringat akan sebuah nasihat di dalam ajaran Dhammapada, Budha, bahwa “Jangan menghiraukan omongan orang lain yang menyakitkan, jangan pula mengawas-awasi tugas yang telah atau pun belum dikerjakan orang lain. Hendaknya engkau memperhatikan apa yang telah dan belum dikerjakan oleh dirimu sendiri.”
Saya tersentuh oleh nasihat bijak ini. Bahwa alangkah eloknya, jika saat Anda difitnah, justru janganlah kamu hiraukan. Mengapa? Karena itu sebuah omongan keji, murahan, alias hanya pepesan kosong, karena tanpa dasar kebenaran. Jika Anda mereaksi, Anda justru telah turut terseret dan terjebak di dalam lingkaran setan ciptaan orang itu. Katakan dengan tegas kepada dirimu, tuduhan itu tanpa dasar kebenaran. Titik! Oleh karena itu, juga hendaklah di dalam hidup ini, jauhilah dari sikap mengurus atau mencampuri urusan orang lain. Urusi dan awasi dengan ketat urusanmu sendiri!
Sebuah fitnah adalah sebuah tindakan kekejian. Bahkan sebuah fitnah lebih kejam daripada sebuah pembunuhan. Mengapa? Karena bukankah akar dari segala kejahatan itu justru bersemayam di dalam hati sang manusia? Di sana, di kedalaman relung batin anak manusia, terdapat sumur, sumber kejahatan. Bibit rasa iri, cemburu, fitnah, serta kedengkian justru bermuara dari sana.
Marilah kita setia menjaga dan merawat kesucian hati kita. Dialah pusat hidup serta kesadaran suci kita. Jika hati kita pun ternoda, maka seluruh diri kita pun akan turut ternoda.
Maka hendaknya kita jangan sekali-kali menodai kesucian hati ini, dengan memfitnah sesamamu!
“Veritatis simplex oratio est“
(Bahasa kebenaran itu sederhana)
…
Kediri, 6 November 2023

