Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Segala sesuatu, apa
pun di bumi ini, akan
meninggalkan
jejaknya.”
(Amanat Hidup Sejati)
Errare Humanum Est
Orang-orang yang berbahasa Latin memiliki adagium yang sangat bermakna, “Kekeliruan itu adalah sifat khas manusia.”
(Errare Humanum Est).
Hal ini dapat bermakna, bahwa manusia adalah makhluk yang tidak luput dari perbuatan salah dan keliru. Juga sejalan dengan ungkapan dalam bahasa kita, “tiada gading yang tak retak.”
Jika berbicara tentang eksistensi kelemahan bawaan manusia, maka kita bagaikan sedang bergunjing tentang sebuah bejana tanah liat nan molek, tapi sangat rapuh, bahkan setiap saat ia dapat pecah.
Didaktika Etika Hidup
Seorang remaja yang sudah sejak kecilnya, selalu marah. Bahkan peristiwa apa saja, baginya, toh akan berakhir dengan kemarahan yang meluap-luap. Apa yang terjadi?
Setelah dengan cermat sang Ayah mengamati fenomena negatif itu, maka ia bertutur kepada anaknya.
“Nak kelak, setiap kali kamu melakukan satu kesalahan, Ayah akan menancapkan sebatang paku pada tonggak pintu pagar rumah kita. Sebaliknya, setiap kali kamu melakukan perbuatan baik, Ayah akan mencabut sebatang paku itu.”
Dengan seiring berjalannya waktu, maka kini, tampak sudah betapa banyaknya paku yang tertancap di tonggak pintu pagar itu.
Tentu saja, remaja itu berusaha agar paku-paku yang tertancap itu, semakin hari akan kian berkurang.
Sungguh, akhirnya di suatu hari, paku yang masih tertancap hanya tersisa sebatang lagi.
Di saat sang Ayah akan mencabut paku yang tersisa itu, maka remaja itu mulai berjoget ria. Rupanya, dia mau menunjukkan, bahwa betapa besar prestasinya sebagai upaya hidupnya.
Kali ini, remaja itu sambil dengan membusungkan dada berkata, “Lihatlah Ayah, bukankah semua paku itu telah tiada?”
“Ya, sungguh, kamu benar anakku,” jawab sang Ayah.
“Tapi anakku, bekas-bekasnya akan tetap tertinggal di sana entah hingga kapan.”
(Dari berbagai Sumber)
Bekas-bekasnya akan Tertinggal
Kearifan hidup telah mengajari kita, bahwa segala sesuatu, apa pun di bumi maya ini akan meninggalkan jejak-jejaknya. Atau akan menyisakan bekas-bekasnya.
Laksana sebatang pohon yang akan diketahui kualitasnya, justru dari buah-buahnya. Demikian pula seluruh tindakan dan perbuatan kita akan meninggalkan akibat-akibatnya. Hal itu yang akan berdampak menyisakan bekas-bekasnya.
Kemarahan, derita, dan butiran air mata itu sebagai bagian dari persoalan hidup manusia, dapat saja akan menemukan solusinya, namun getaran sendu serta perih nyeri pada bekas luka-luka itu, toh akan tertinggal. Itulah sebuah memori dari tragedi hidup manusia.
Konklusi
Itulah sebabnya, mengapa seseorang, biasanya akan terus memikul beban derita hidupnya?
Hal itu dapat terjadi, justru karena ada rasa bersalah alias luka batin nan menyayat yang masih tersimpan rapi di kedalaman lubuk hati sang manusia.
…
Kediri, 13 Maret 2025

