Ada banyak sekali perubahan gaya hidup dalam keluarga-keluarga kita sebagai bagian dari kemajuan teknologi dan komunikasi. Keluarga Stevanus dan Melania bersama tiga anak mereka yang sudah bekerja di tempat yang berbeda, memaksimalkan komunikasi di antara mereka melalui media WA group keluarga. Di dalam sebuah pesan WA yang dibagikan ke teman-temannya, Stevanus berkata, bahwa kehidupan rohani keluarganya mempunyai standar Kristiani yang sesungguhnya, khususnya saat-saat rutin untuk berdoa bersama dalam keluarga, informasi diberitahukan melalui WA group keluarga itu.
Tradisi dan agama Yahudi mewariskan suatu kehidupan rohani standar yang kemudian Yesus juga mengajarkan itu kepada kita. Kerohanian standar itu mencakup tiga perbuatan dasar yang diwajibkan, yaitu “berpuasa, berdoa, dan beramal kasih.” Orang Yahudi mewajibkan ini kepada setiap umatnya. Jika ketiganya dilakukan dengan teratur dan baik, seseorang dipandang beragama dengan baik dan diberkati Allah. Yesus juga membuat tiga unsur ini jadi kekhasan para pengikut-Nya. Mereka wajib berdoa, berpuasa dan berbuat kasih.
Namun ada perbedaan mencolok antara kerohanian standar yang diajarkan oleh Yesus dan yang dijalankan oleh orang Yahudi, terutama menurut para pemuka agama dan kaum Farisi. Perbedaannya ialah terkait dengan motivasi atau maksud. Bagi Yesus dan yang selalu Ia tegaskan kepada kita adalah, motivasi berdoa, berpuasa atau bermati raga, dan beramal kasih ialah untuk menjalin relasi dengan Allah. Hal ini sungguh sebuah urusan rohani, hati, dan kegiatan iman kepada Tuhan. Kitab Nabi Yoel menekankan sebuah pembaharuan hati, dan bukan urusan luar seperti pakaian yang dikoyakkan dan aneka atribut luar lainnya yang melekat pada tubuh dan lingkungan hidup kita.
Hal ini menegaskan, kalau hidup rohani Yahudi sangat bertentangan dengan yang diajarkan oleh Yesus. Kerohanian mereka bukan untuk Tuhan, melainkan untuk mendapatkan pujian orang-orang lain, bahwa mereka orang suci dan baik. Upahnya sudah mereka dapatkan dengan penampilan itu, sementara Tuhan tidak memberikan berkat-Nya kepada mereka.
Yesus menegaskan supaya kita tidak mengikuti standar luar seperti itu. Standar kita ialah di dalam hati yang langsung mempunyai relasi dengan Tuhan. Setiap kali melakukan ketiga kesalehan ini dengan benar, itu adalah saat seseorang mengalami tanda keselamatan dari Tuhan, demikian kata Santo Paulus dalam bacaan kedua hari ini.
Ini adalah semangat Rabu Abu yang kita semua rayakan pada hari ini untuk mengawali masa Prapaskah kita.
“Ya, Tuhan Allah, semoga dengan hari Rabu Abu ini kami dipenuhi semangat baru untuk memulai proses pembaharuan diri di dalam masa Pra Paskah ini. Amin.”
(Verbum Veritatis oleh RP. Komunitas SDB-Salesians of Don Bosco)

