Tidak ada yang menyangka, bahwa perjalanan menuju Damsyik jadi titik balik dalam hidup Paulus. la yang semula dikenal sebagai seorang penganiaya yang beringas, kini jadi seorang pelayan yang gigih. Hatinya yang dahulunya tertutup oleh kegelapan dosa, kini terbuka oleh cahaya Kristus.
Dari pengalaman Paulus, kita belajar, bahwa manusia bisa berubah; dan Tuhan tidak menghakimi, apalagi menghukum, melainkan la mengasihi dan mengampuni. Yang terpenting bagi kita adalah membuka mata dan hati untuk melihat dan merasakan kehadiran-Nya, serta bertobat.
Yesus berkata, “Jika hidupmu tidak lebih benar daripada ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Surga.”
Mengapa demikian? Sebab, orang-orang dari kedua kelompok itu melakukan kewajiban agama hanya supaya dilihat orang alias ‘makan puji’. Maka dari itu, pesan Yesus ini mengingatkan kita, bahwa kehidupan rohani harus berangkat dari hati yang baik, dan bukan modus. Jangan jadi pura-pura baik hanya karena ingin dianggap suci. Berbuat baiklah, karena memang ingin jadi orang baik, tidak agar dipuji orang.
“Tuhan Yesus, Engkau mengingatkan kami, bahwa hidup keagamaan harus berasal dari hati yang tulus dan tidak semata-mata untuk dilihat dan dipuji oleh orang lain. Bantulah kami untuk tidak melakukan kewajiban agama hanya untuk kepentingan diri sendiri, tapi untuk mengasihi dan melayani sesama dengan tulus. Amin.”
Ziarah Batin

