Oleh : Mas Redjo
| Red-Joss.com | Di suatu padepokan Antahbrantah, Guru Bijak sedang ngobrol dengan para cantrik. Obrolan mengalir lancar, dan sesekali ditimpali tawa.
“Menurutmu, keheningan itu diperoleh di tempat sepi?”
“Tidak selalu…”
“Jadi?”
“Tempat sepi hanya suatu sarana yang mendukung untuk menciptakan keheningan itu.”
Guru Bijak tersenyum. Cantrik itu sumringah.
“Apa yang didapat di tempat sepi, kalau hati kita tertinggal di kota. Keheningan itu dapat dicari di tempat ibadah atau diciptakan entah di mana.”
“Bagaimana bisa di tempat ibadah kalau suasana berisik sekali,” kata cantrik yang lain.
Cantrik itu diam. Ia sendiri merasa sulit beribadah kalau umat pada ngobrol, berisik, main hp, selfi, atau bermedsos. Apakah beribadah itu harus di tempat sepi?
Kenyataannya, kita sering hilang konsentrasi saat beribadah, karena suasana berisik. Banyak orang beribadah itu sekadar kewajiban. Hilang kesakralannya, karena kita ngobrol dan asyik sendiri. Anak-anak dibiarkan bermain, berisik, berteriak, dan berkejar-kejaran. Kita hilang rasa peduli?
Kita beribadah seakan tanpa roh, hampa. Kita lupa dan kehilangan hakikat beribadah yang khidmat. Bukannya mendengarkan khotbah, sebaliknya kita asyik bergawai. Beribadah itu harus bebas dari ber-hp-ria. Kita siapkan hati untuk itimasi dengan Ilahi agar jiwa ini dipuasi-Nya.
Kita menyiapkan diri: hati & pikiran ini agar terarah dan fokus untuk menerima kehadiran Ilahi. Keheningan itu harus diciptakan sendiri.
Alangkah bijak, jika anak-anak itu diingatkan tujuan beribadah supaya tidak main-main, berisik, dan mengganggu yang lain. Sejak usia dini mereka harus diajar dan dilatih beribadah yang baik dan benar agar kelak mereka pahami dengan sungguh hakikat beribadah yang sakral dan khidmat itu.
Sesungguhnya, kendati tempat ibadah itu berisik, kita dituntut konsentrasi dan fokus agar tidak terganggu oleh yang lain. Karena keheningan itu diciptakan sendiri.
“Jika kita mau mencari keheningan pergilah di keramaian, bukannya di tempat sepi atau terpencil,” kata Guru Bijak. “Caranya? Apakah kita selalu bersyukur untuk hari yang baru? Apakah kita mau berhening sejenak meninggalkan rutinitas. Kita mengolah keheningan itu untuk berintimasi dengan Sang Sumber Keheningan itu?”
“Bagaimana mau srawung dengan keheningan sekiranya kita dipacu kesibukan berburu ‘rente’ dan lapar kenikmatan daging?”
“Kita belajar secara kontinyu agar makin akrab dengan keheningan itu. Kita mengosongkan diri untuk tinggalkan keegoan, iri dengki, dan aura negatif, lalu menyatukan hati pada kehendak Ilahi agar peroleh damai. Kita menjadi pribadi yang tidak mudah tersulut emosi, kendati dilecehkan, dihina, dan sekalipun direndahkan. Kenapa? Kita miliki kontrol diri yang teruji. Sadar diri, bahwa menanggapi hal seperti itu hanya lemahkan diri sendiri. Kita kehilangan harkat dan martabat diri. Tapi, dengan bersikap rendah hati kita kalahkan ego sendiri.”
“Sesungguhnya, orang sombong itu dipermalukan oleh dirinya sendiri. Karena mengedepankan egonya, sehingga dibakar emosi, iri hati, dengki, atau dendam.”
“Ngger, kemuliaan seorang itu tidak didapat dari tingginya jabatan atau harta yang melimpah, tapi, karena ia mampu mengendalikan pikiran dengan hati. Ia mampu merubah persoalan itu menjadi hikmah agar hidupnya berhikmat,” tambah Guru Bijak itu, lalu menyeruput kopinya.
Keheningan itu harus dilatih dan diciptakan sendiri agar kita makin peka dan pahami kehendak Allah dalam hati ini, dalam hidup kita…
Mas Redjo

