“Kesadaran itu kunci mengalami kasih Tuhan, cara mengenali dan menghargai diri.” – Rio, Scj.
Seringkali kita tak bisa konsentrasi. Tubuh kita di sini, tapi pikiran, hati dan kesadaran ke mana-mana. Bahkan maunya berdoa, tapi otak berpikir ke mana-mana, hati dan rasa pun terbawa. Kita memikirkan keluarga, pekerjaan, kesalahan masa lalu, konflik gosip di media sosial, dan masa depan. Bila hal ini sering menguasi pikiran, kita pun jadi menderita.
Ubah kebiasaan itu dengan kehati-hatian. Karena kehati-hatian itu merupakan kesadaran dan perhatian kita terhadap yang terjadi dalam diri ini dan yang sedang kita lakukan. Kesadaran ini akan membawa keseimbangan, kebahagiaan, dan kedamaian hidup.
Sikap kehati-hatian itu membantu kita untuk tidak mudah reaktif terhadap keadaan di sekitar, atau komentar orang. Tapi kita mampu memberikan respon bijak pada keadaan. Pribadi yang hati-hati itu tidak mudah terprovokasi, cemas, marah, dan jauh dari stres.
Melatihlah kehati-hatian dengan tiga cara ini:
Pertama: meditasi duduk, bila dilakukan dengan benar bisa menenangkan pikiran. Duduk atau bersila, rileks, dan punggung lurus. Perhatikan nafas masuk dan ke luar, sadari nafas dan tubuh sepenuhnya. Jangan lupa sambil setengah senyum, karena akan merilekskan otot wajah dan otak.
Saat meditasi duduk itu banyak pikiran akan muncul. Izinkan, amati dan tidak usah dinilai. Setelah itu relakan dan lepaskan beban pikiran itu. Di sinilah kita melatih diri untuk tidak menghakimi dan menilai, ‘pride and prejudice’. Menjadi welas asih, empati, respek terhadap apa pun, siapa pun, dan juga pada diri ini.
Kedua: meditasi jalan. Rasakan telapak kaki saat menapak tanah, sinkronkan nafas dengan langkah. Selangkah nafas masuk, selangkah nafas ke luar. Nikmati nafas itu, karena nafas itu tanda kita hidup.
Ketiga: ‘mindfull eating’. Perhatian penuh pada apa yang kita makan, lihat lalu mengucap syukur, kunyah, nikmati rasanya. Tiga cara ini adalah langkah sederhana untuk membantu kita menjadi berhati-hati.
Meditasi dan kehati-hatian adalah proses mengenali diri, menerima dan mengembangkan diri. Kehati-hatian membawa kita mengakui penderitaan, dan belajar mengatasinya. Kita tatap derita secara dalam, cari akarnya, dan lepaskan.
Deo gratias.
Edo/Rio, Scj

