Oleh: Fr. M. Christoforus,
“Seni berkomunikasi tidak terletak pada kemampuan untuk berbicara, melainkan pada kemampuan untuk mendengarkan.”
(Edwin Louis Cole)
“Tong kosong, nyaring bunyinya.”
…
| Red-Joss.com | Pada suatu kesempatan, seorang guru kelas satu sekolah dasar (SD), meminta kepada salah seorang muridnya untuk menyebut alat-alat indera.
Lalu, tampillah dengan bersemangat sang ketua kelas. Hidungku, satu. Mulutku, satu. Tetapi, daun telingaku, dua, ucap lantang sang murid.
Sang guru rupanya penasaran atas jawaban cerdas itu, lalu balik bertanya, “Nak, mengapa telingamu justru ada dua?”
Jawaban sang murid, “Supaya, saya bisa mendengar dengan baik perintah Pak Guru!”
Saudaraku, pernahkan Anda mendengar dan mengenal sepotong nama tenar dunia, “Oprah Winfrey,” sang pemandu talk show terkenal sejagad? Apa misteri paling dasyat dari tokoh jenius ini? Ternyata dia sangat dikagumi, pertama-tama, karena dia memiliki kemampuan seni mendengarkan saat berlaga. Banyak tamu tenarnya, yang justru mengaguminya karena memiliki kemampuan mendengarkan. Lewat potensi personal ini, dia akhirnya mampu memancing emosi para tamunya untuk dapat mengeluarkan seluruh isi hati mereka. Menarik, bukan?
Inilah statemen dasyat dari para bijaksanawan, bahwa “Lewat kemampuan seni mendengarkan, sang manusia, dua kali lebih banyak memperoleh keuntungan, daripada berbicara.”
Lewat proses berbicara, sang manusia itu justru melakukan tindakan “membuang” aneka gagasan ke angkasa. Tetapi, lewat proses seni mendengarkan, sang manusia akan menyimpan aneka gagasan di dalam hatinya. Itulah sebabnya, mengapa para seniman mendengarkan akan bertindak lebih santun dan arif? Jawabannya, karena sesungguhnya, lewat proses mendengar, sang manusia akan menyimpan dan memahami sebuah gagasan.
Kini, Penulis pun mulai memahami, mengapa di jagad hidup ini, ternyata lebih banyak para pemikir, filsuf, seniman, serta para ilmuwan, justru berasal dari karakter melankolis?
Saudaraku, harus pula kita akui, bahwa sang manusia justru lebih senang didengar daripada mendengarkan, bukan?
Ternyata, bahwa proses menuju gerbang kebijaksanaan, ialah, pertama-tama dengan “bersikap diam,” dan kedua, ialah “bersikap mendengarkan.”
Mari Saudara, utamakan dan manfaatkan kedua daun telingamu untuk mendengarkan daripada terus mengoceh.
…
Kediri,ย 27ย Aprilย 2023
…
Foto ilustrasi: Istimewa

