Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Si Deus est, Unde Malum?
“Jika Allah memang ada, dari mana asalnya kejahatan?”
(Filsuf Leibniz)
Mengapa ada Kejahatan di Bumi ini?
Inilah sebuah pertanyaan retoris mondial, “Dari manakah datangnya kejahatan di atas bumi ini?” Pertanyaan ini, bahkan belum ada sahutannya. Adapun esensi dasar di balik pertanyaan ini, bahwa ‘ada keraguan dan keputusasaan yang bercokol di dalam hati umat manusia, soal eksistensi Allah.’
Jikalau Allah ada, dari Mana Asalnya Kejahatan?
Adalah filsuf Gottfried Wilhelm Leibniz (1646-1716), yang mengajukan sebuah pertanyaan retoris, “Si Deus est, unde malum?” Jika Allah itu ada, dari manakah asalnya kejahatan? Pertanyaan ini diajukannya, karena fakta miris yang justru bertolak belakang dengan eksistensi Allah yang Maha Tahu, Maha Kuasa, dan Maha Baik. Di balik pertanyaan ini justru terselip sebuah nada protes.
Mengapa muncul sikap protes di dalam hati manusia? Ya, manusia berpendapat, bahwa Allah seolah-olah membiarkan dan bahkan mengizinkan adanya penderitaan dan kejahatan di atas bumi ini. Sejujurnya, bukankah keresahan serupa masih bercokol juga di dalam hati umat manusia hingga kini?
Tiga Jenis Keburukan
Leibniz mencoba untuk menjawab pertanyaan retoris itu lewat “tiga jenis keburukan.”
- Keburukan Fisik (malum physicum). Keburukan fisik itu mewujud dalam bentuk konkret adanya ‘penyakit dan penderitaan.’ Di balik realitas keburukan fisik ini, kepada umat manusia diajarkan, agar hidup dengan ‘berhati-hati dan mampu menjaga kesehatan.’
- Keburukan Metafisik (malum metaphysicum). Adapun keburukan ini, bentuk konkretnya lewat peristiwa ‘bencana alam.’
- Keburukan Moral (malum morale). Inilah bentuk kejahatan dalam makna yang sesungguhnya. Kejahatan ini hadir justru, karena umat manusia ‘menyalahgunakan kebebasan dari Allah.’ Jadi, dalam konteks ini, manusia itu sendiri yang mau untuk berbuat jahat.
Jadi, Apa sesungguhnya, yang Dikehendaki Allah?
Sesungguhnya, bahwa Allah tidak menghendaki adanya kejahatan di atas bumi, namun di sisi lain Allah membiarkan dosa dan kejahatan, agar manusia itu tetap bebas. Dalam konteks ini, hal yang mau digarisbawahi ialah ‘aspek kebebasan manusia.’ Nyata pula, bahwa manusia itu sudah dari sananya, memang sebagai makhluk yang memiliki keterbatasan (erare humanum est).
(Ex Latina Claritas)
Konklusi
Jadi, maraknya aneka kejahatan dan malapetaka di atas bumi ini, seperti terorisme, pembunuhan, bencana alam, pertikaian, permusuhan, dan kebencian adalah buah-buah ranum dari kejahatannya sendiri, karena manusia telah melanggar perintah Allah.
Refleksi
Apa dan Bagaimana Panggilan Kita Kini?
Memandang seluruh realitas penderitaan dan aneka kejahatan di atas muka bumi ini, maka apa dan bagaimana sebaiknya kita bersikap?
- Sanggupkah kita membantu menyadarkan umat manusia akan pentingnya sikap kebebasan dan akal budi?
- Bukankah kita dipanggil dan diutus sebagai pencari dan penyelamat jiwa-jiwa manusia?
Mari kita belajar untuk, “melihat segala sesuatu dari sudut pandang keabadian”
(Res Sub Specie Aeterninatis)
Kediri, 20 Desember 2025

