Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Bonum est Faciendum et Malum Vitandum”
(Thomas Aquinas)
Melakukan yang Baik, Menghindari yang Jahat
Filsuf Katolik nan brilian, Thomas Aquinas di saat membahas tentang ‘filsafat tindakan’, ia menyodorkan sepenggal stateman paling bijaksana, “Bonum est Faciendum et Malum Vitandum,” artinya melakukan yang baik, menghindari yang jahat.
Dari balik statemennya ini, ia pun membagi tindakan manusia ke dalam dua macam. Masing-masing:
- Actus Hominis: yakni tindakan manusia.
- Actus Humanus: yakni tindakan yang manusiawi.
Sebuah tindakan dikategorikan sebagai actus hominis, jika tindakan itu dilakukan tanpa ada unsur kesengajaan. Tapi, tindakan itu berlangsung di luar kendali manusia. Maka, tindakan ini tidak dapat dipertanggungjawabkan.
Sementara itu, sebuah tindakan yang dikategorikan sebagai actus humanus, yakni tindakan manusia yang tidak ada pada organisme lain. Maka, tindakan ini dapat dikategorikan sebagai sebuah ‘kesengajaan,’ karena dilakukan dengan kesadaran alias dengan tahu dan mau. Maka, tindakan ini perlu dipertanggungjawabkan. Karena itu, tindakan ini wajib dilakukan ke arah hal-hal yang baik. ‘Baik’, karena sesuai dengan tujuan terakhir manusia.
Ex Latina Claritas (Pius Pandor, CP)
Kejahatan Dikalahkan oleh Kebijaksanaan
Seorang peternak domba di Indiana merasa sangat terganggu oleh hadirnya anjing-anjing milik tetangganya yang sering menerkam domba-dombanya.
Sesuai tradisi di sana, permasalahan serupa ini biasanya dapat diselesaikan lewat jalur hukum, tuntutan di depan pengadilan atau juga dengan membuat pagar kawat berduri.
Namun, peternak nan arif ini, menempuhnya lewat cara yang sangat elegan dan humanis. Dia memberikan seekor atau dua ekor domba kepada tetangganya. Tujuannya, agar tetangganya itu mengikat anjing mereka agar tidak memangsa dombanya sendiri. Inilah sebuah cara dan jalan yang paling arif demi menuntaskan permasalahan mereka bersama.
J. Wallace Hamilton
(1500 Cerita Bermakna)
Dasyatnya Sebuah Tindakan Bijaksana
Orang-orang bijaksana memang tidak pernah kehilangan atau apalagi kehabisan stok kearifan dari dalam kotak kesadarannya. Ada saja cara atau kalimat jitu yang ternyata sanggup menuntaskan sebuah permasalahan hidup.
Dari balik konteks permasalahan ini, apa dan bagaimana yang biasanya sering terjadi di dalam masyarakat kita? Bukankah biasanya setiap permasalahan, justru akan berakhir dengan permasalahan pula? Mengapa justru cenderung terjadi demikian?
Sebuah tindakan yang manusiawi (actus humanus), bertolak dari kesadaran manusia. Artinya manusia itu bertindak atas dasar kesadarannya. Seluruh aktivitas tindakannya digerakkan oleh akal budi. Sehingga sudah selayaknya, bahwa manusia itu hanya melakukan suatu kebaikan dan bukan justru kejahatan.
Manusia Mudah Termakan Bujuk Rayu
Sesungguhnya secara naluriah, manusia itu memang sudah tahu dan mampu membedakan, mana hal yang baik dan mana pula hal yang jahat. Namun, di sisi yang lain, ternyata betapa rapuhnya sikap manusia itu. Karena mudah tergoda ke hal-hal yang dianggapnya justru lebih gampang, menguntungkan, praktis, dan lebih menyamankan dirinya. Dalam konteks ini, orang-orang Latin menyebutnya, ‘errare humanum est’, artinya kekhilafan adalah manusiawi.
Refleksi
Semuanya itu, tentu akan sangat bergantung pada kualitas personal seorang anak manusia; sejatinya dia.
Dalam konteks kearifan serupa ini, sepatutnya kita perlu berguru kepada peternak brilian itu. Karena bukankah dialah Guru Agung bagi kehidupan kita?
Belajar untuk jadi bijaksana itu memang tak ada sekolahnya!
Karena di sana hanya dibutuhkan sekeping nurani yang terbuka atas kebaikan dan kasih sejati!
Kediri, 30 Oktober 2025

