Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
| Red-Joss.com | “Salah sebuah keistimewaan sang manusia ialah kerelaannya untuk sudi ‘melihat, mendengar, lalu mengambil sikap’ menuju gerbang kebijaksanaan.”
Sebagai seorang guru dan pendidik, saya menyimpan banyak pengalaman. Salah satu di antaranya adalah ketika saya ‘salah menilai dan memvonis’, bahwa seorang murid itu nakal dan, bahkan kurang ajar.
Setelah berkelana dan menoleh ke masa laluku, hati ini pun terenyuh dan bahkan tersakiti karena, prinsip ‘menyesal kemudian memang selalu tak bergunaโ.
Hari ini, saya membaca sebuah buku refleksi seseorang tentang pengalamannya, saat dia ternyata keliru, menilai seorang murid.
Begini kisah itu. Seorang guru, setelah mencatat rapi semua kesalahan sang murid, lalu dia berkunjung ke rumah orangtuanya untuk mengadu kesalahan sang murid.
Ketika dilihatnya kondisi rumah serta lingkungan tempat tinggal sang murid, hatinya mulai terenyuh. Dia merasa terharu, dan bahkan bersalah, sebelum membeberkan permasalahan sang murid.
Diketuknya pintu kecil dan kusam itu. Muncul Ibu tua renta. Sebelum sang guru mengadukan kesalahan sang murid, Ibu itu pun berkata, “Andai tidak ada anak ini, saya sudah meninggal, Pak. Anak ini, sangatlah baik. Mereka, delapan bersaudara dan tidak berayah.
Setiap hari, sepulang sekolah, ia bekerja membanting tulang mencari uang hingga larut malam. Sekalipun dia hiperaktif, namun hatinya sangat baik. Bahkan dia juga rela, mencuci pakaian ketujuh saudaranya.”
Lalu, sang guru itu pun pulang dan bahkan tanpa mampu mengadukan kesalahan sang muridnya. Betapa dia mulai sadar, ternyata selama ini, saya sudah cukup sering menilai jahat seorang muridku, tanpa mengetahui esensi dasar permasalahan mereka.
(Setetes Embun bagi Jiwa, Drs. Timoteus Adi Tan)
Saudaraku, saat saya membaca dan merefleksikan kembali kisah salah kaprah sang guru ini, saya pun turut merasa bersalah.
Mengapa? Saya pun jujur dan sungguh sadar, bahwa inilah salah sebuah kendala riil di dalam proses penilaian terhadap seorang murid.
Ternyata garis konklusi ku terhadap sang murid mungkin ‘bengkok dan pincang alias salah kaprah parahโ.
Saya hanya melihat dan mengenal sepintas sang murid, saat lima hingga enam jam sehari di sekolah. Selebihnya, saya tidak pernah tahu, apa yang sesungguhnya ada di balik layar. Dan siapakah sesungguhnya, si sang murid ini di dalam keluarganya.
Sebuah pertanyaan reflektif retoris, ‘jangan-jangan, selama berguru, saya justru tidak mendidik murid, malah mengatasi persoalanku sendiri.’ Inilah celakanya, jika motivasi menjadi seorang guru dan pendidik sekadar memenuhi kebutuhan ekonomi rumah tanggaku.
Juga, apakah saat di rumah, sang orangtua sungguh mendidik sang anak, atau sekadar melampiaskan perasaan terganggunya, karena sang anak sering membuat keributan?
Bagaimana mungkin saudaraku, sang guru dan sang ortu yang bermasalah, dapat mendidik sang anak dan sang murid?
Pendidikan yang baik dan benar bukan laksana model anjing milik Pavlov, bahwa sang anak dan sang murid hanya pasrah untuk menerima hukuman atau pun bingkisan hadiah.
“Sungguh, selamanya, sang buta, tak sanggup membimbing sang buta!”
…
Kediri,ย 16ย Aprilย 2023

