Oleh : Rm. Petrus Santoso SCJ
[Red-Joss.com] Hari ini, kita sungguh bijaksana, di lain hari kita sungguh sangat bodoh.
Hari ini, kita bisa menyiapkan dengan baik apa saja yang hendak kita butuhkan, di lain hari segala persiapan kita gagal total.
Hari ini, kita bisa membuat orang lain sungguh tertawa bahagia dengan wajah yg berseri-seri. Di lain hari kita membuat orang lain menjadi sedih dengan muka masam, bahkan menjadi sangat marah.
Hari ini, orang memuji kita, karena prestasi dan segala yang kita capai. Di lain hari orang lupa dengan segala pujian yang pernah disampaikan, sebaliknya yang diterima adalah segala bentuk umpatan yang dikarenakan oleh kegagalan kita.
Hari ini, kita sungguh suci seperti malaikat dan santo-santa. Di lain hari kita jadi pendosa, bahkan lebih jahat dari iblis dan setan.
Hari ini, kita bisa memberikan nasihat yang bijak dan suci. Di lain hari, sama sekali tidak ada satu kata bijak dan suci yang ke luar dari mulut kita.
Hari ini, kita bisa membawa setiap orang dengan Tuhan. Di lain hari mereka menjauh dari Tuhan, karena kita telah menjadi penghalang dengan perbuatan yang tidak benar dan tidak pantas.
Hari ini ada yg bilang, kita baik dan bijaksana. Di lain hari, ada yang bilang dengan marah, bahwa kita bodoh dan jahat.
Akhirnya, orang menjadi hati-hati. Sesungguhnya kita harus mengikuti yang bijaksana dan tidak mengikuti yang bodoh. Kita harus mengembangkan kebijaksanaan, tapi tidak untuk kebodohan.
Tentu kita ingat kisah tentang 5 gadis bijaksana dan 5 gadis bodoh dalam Injil. Perumpamaan itu bisa menjadi gambaran hidup kita. Tapi kita masih sering berubah-ubah, hari ini jadi orang bijak, di lain hari jadi orang yang bodoh.
Kebijaksanaan itu …
Kadang diketahui, tapi banyak juga yang kita tidak tahu. Percayalah, Tuhan mencatat semua kebijaksanan itu.
Kebodohan itu …
Kadang diketahui, tapi banyak juga yang kita tidak ketahui, bahkan berusaha untuk kita sembunyikan. Ingat, hal itu tidak bisa, karena Tuhan Maha Tahu.
Sekarang, sadari, mana yang lebih dominan, bijaksana atau bodoh. Kita melakukan banyak kebijaksanaan atau kebodohan?
Semoga yang bertambah adalah kebijaksanaan, bukan kebodohan kita.
Semoga yang kita bagikan adalah hidup yang bijaksana, bukan hidup yang bodoh.
Mari kita bertransformasi menjadi pribadi yang bijaksana, setelah lama menjadi orang yang bodoh.
Rm. Petrus Santoso SCJ

